×
Ad

Hardware Gaming Bersinar di RI, Game Lokal Belum Jadi Primadona

Panji Saputro - detikInet
Kamis, 22 Okt 2026 18:45 WIB
Foto: Panji Saputro/detikINET
Jakarta -

Di Indonesia, perangkat keras gaming lebih diminati. Sementara game buatan developer Tanah Air kurang bersinar dan belum menjadi primadona.

Hal tersebut terungkap dari data yang diluncurkan oleh Access Partnership melalui white paper bertajuk The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia. Direktur Access Partnership, Cheng Wei Swee, mengungkapkan bahwa industri game sukses menyokong Produk Domestik Bruto (PDB) sejumlah negara di Asia Tenggara.

Dari situ, Indonesia menyumbang hingga USD 1,8 miliar atau sekitar Rp 32,4 triliun, lebih tinggi dari Filipina, Singapura, dan Thailand. Kendati demikian, dari nilai tersebut, kontribusi terbesar datang dari perangkat keras mencapai 47%, sedangkan game lokal hanya menyumbang 7%.

Pasar game Asia Tenggara Foto: Panji Saputro/detikinet

Persentase tersebut kalah dari dukungan yang diberikan oleh retail 22% dan esports 24%. Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara di Asia Tenggara, selain Malaysia dan Thailand, yang perangkat keras gaming-nya lebih diminati dibandingkan game itu sendiri.

Cheng mengungkapkan, pengembangan dan penerbitan game di ASEAN masih berada di tahap awal atau belum terlalu berkembang. Banyak game viral dan menguntungkan yang berasal dari luar Asia Tenggara.

"Meskipun orang-orang menghabiskan banyak uang untuk game di ASEAN, sebagian besar uang tersebut disalurkan kembali ke negara asal game tersebut. Baik itu AS, Jepang, Korea, dan lain-lain," jelas Cheng.

Menurutnya, hal yang patut menjadi perhatian di sini adalah bagaimana developer dapat mengembangkan game yang bagus dan konten lokal yang menarik, sehingga bisa mencuri perhatian para gamer di masing-masing negara Asia Tenggara.

"Jadi menurut saya itu adalah salah satu cara untuk melihat pendapatan dari pemain. Banyak dari mereka berasal dari luar ASEAN. Jadi bagaimana kita bisa menangkap pendapatan itu?," ujarnya.

Lanjut, Cheng mengatakan Indonesia, Malaysia, dan Thailand memiliki manufaktur yang kuat. Oleh karena itu, kata Cheng, tidak mengherankan jika ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang ketiga negara tersebut miliki dibandingkan dengan negara lain di dunia.

"Jadi menurut saya, jika kita melihat pembagian kontribusi ekonomi secara keseluruhan, salah satu kuncinya adalah fokus pada pengembangan dan penerbitan game. Bagaimana kita bisa memiliki game yang bagus di kawasan ini, di Indonesia, sehingga dapat menarik pemain dari seluruh dunia. Dan sambil tetap mempertahankan beberapa keunggulan lain yang mungkin dimiliki negara ini," tambahnya.

Dari segi manufaktur, Cheng menyampaikan negara ini merupakan tempat yang sangat menarik untuk menyelenggarakan acara esports. Indonesia bisa menjadi tuan rumah banyak pertandingan internasional dan membawa banyak manfaat ekonomi.

"Dan kita tahu ada banyak turnamen tingkat grassroots yang juga telah berlangsung. Jadi, pertama, saya akan menyarankan untuk mempertahankan keunggulan yang ada, tetapi juga melihat bagaimana kita dapat meningkatkan angka 7% itu dalam hal pengembangan dan penerbitan game," pungkasnya.



Simak Video "Video: Takut Memulai Jadi Masalah yang Sering Terjadi pada Developer Game Muda"

(hps/fyk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork