Riot Games Bayar Rp 1,4 Triliun Akibat Diskriminasi Gender

Riot Games Bayar Rp 1,4 Triliun Akibat Diskriminasi Gender

Panji Saputro - detikInet
Rabu, 29 Des 2021 19:14 WIB
Riot Games Bayar Rp 1,4 Triliun Terkait Gugatan Diskriminasi Gender
Riot Games Bayar Rp 1,4 Triliun Terkait Gugatan Diskriminasi Gender (Foto: Riot Games)
Jakarta -

Riot Games, developer ternama yang telah mengembangkan banyak judul hebat, menyetujui membayar USD 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun kepada lebih dari 2.000 karyawannya. Jumlah tersebut meningkat dari USD 10 juta atau sekitar Rp 142 miliar.

Ini dilakukan untuk menyelesaikan tuntutan atas diskriminasi gender, yang dilayangkan oleh penggugat pada tahun 2018. Di mana para wanita yang mengajukan laporan mengganti pengacara dengan Genie Harrison dan memutuskan angkanya tidak cukup.

Kemudian dua lembaga negara, yakni California Department of Fair Employment and Housing dan Department of Labor Standards Enforcement menilik lebih dalam kasus ini. Mereka menyampaikan para wanita tersebut berhak atas lebih dari USD 400 juta atau sekitar Rp 5,6 triliun, sampai akhirnya sepakat pada angka Rp 1,4 Triliun, dikutip detikINET dari The New York Times, Rabu (29/12/2021).

Berdasarkan ketentuan perjanjian yang telah disepakati, total yang dibayarkan nantinya akan dibagi kepada 2.300 karyawan. Lebih dari 1.000 pekerja full-time dan 1.300 kontraktor mendapatkan USD 80 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun. Sedangkan sisanya USD 20 juta atau sekitar Rp 284 miliar diberikan kepada pengacara dan biaya lainnya.

Diketahui selain diskriminasi, juga ada kasus lain seperti pelecehan seksual dan upah yang tidak setara. Kevin Kish, Direktur California Department of Fair Employment and Housing, menyampaikan bahwa semua industri di California termasuk game, harus memberikan gaji yang sama.

"Di mana termasuk memberikan tempat kerja yang bebas dari diskriminasi dan pelecehan," tambah Kish.

Gugatan ini sendiri sudah diajukan sejak November 2018 oleh Jessica Negron dan Melanie McCracken. Keduanya merupakan karyawan yang saat ini masih bekerja dan telah keluar dari Riot Games.

Mereka menyampaikan tuduhan kepada pengembang game tersebut, di mana rata-rata pekerjanya 80% diisi oleh laki-laki yang melakukan diskriminasi. Selain itu juga termasuk pelecehan seksual, pembalasan kepada para wanita yang berbicara dan mengedepankan budaya "Men-First."

Tidak hanya atas nama perusahaan, gugatan terpisah juga ditujukan kepada Nicolas Laurent, CEO Riot Games atas pelecehan dan diskriminasi. Dilakukan oleh mantan asisten eksekutif, di mana penyelidikan dilakukan oleh pihak ketiga yang tidak menemukan bukti kesalahan. Sehingga Laurent pun masih tetap berpegang teguh pada posisinya saat ini.



Simak Video "Hyeri Alami Pelecehan Seksual Online, Agensi Tempuh Jalur Hukum"
[Gambas:Video 20detik]
(hps/fay)