Minggu, 01 Des 2019 22:10 WIB

5 Alasan Mobile Legends Bisa Jadikan Indonesia Jagoan eSport

Tim Moonton Indonesia - detikInet
Foto: Moonton Indonesia Foto: Moonton Indonesia


4. Standarisasi ekosistem esport lintas negara

Jumlah pemain game yang besar, sayangnya, barulah langkah pertama menjadikan satu negara jadi pusat esport dunia. Langkah penting selanjutnya adalah soal standarisasi ekosistem esports.

Dalam hal MLBB, ekosistem esport Indonesia sudah menjadi standar untuk ekosistem esport di negara lainnya. Konsep Mobile Legends Professional League (MPL) pertama kali dijalankan di Indonesia yaitu dengan MPL ID S1 (13 Januari - 1 April 2018).

MPL kemudian dijalankan untuk kawasan Malaysia-Singapura. Selanjutnya, konsep MPL pun diimplementasikan di Filipina dan Myanmar. Saat di Axiata Arena, Lucas pun bercerita tentang rencananya untuk mengimplementasikan MPL ke negara-negara selanjutnya.

Indonesia juga menjadi negara pertama dengan sistem turnamen yang berbentuk franchise untuk esport mobile game. Jika sistem franchise ini juga bisa diterapkan di negara-negara lainnya, Indonesia kembali menjadi tolak ukur sistem turnamen tertutup untuk game mobile.

Standarisasi ekosistem esport ini juga sebenarnya penting karena turut menentukan kualitas para pemain profesionalnya. Hal ini terlihat dari gelaran M1 World Championship. Hanya 2 tim non-MPL yang berhasil lolos ke babak Playoff, 10S Gaming dari Jepang dan VEC Fantasy Main dari Vietnam.

Nyatanya, jika kita berbicara soal aspek kompetitif, standar kompetisi di satu negara memang berpengaruh pada kemampuan para pemainnya.

5. Bursa pasar atlet esport tingkat internasional

Dari semua aspek yang dibutuhkan, aspek terakhir ini yang mungkin masih sedikit tertinggal dibanding yang lain. Namun, jika Indonesia benar-benar ingin jadi pusat esport untuk MLBB, bursa pasar pemain esport jadi elemen penting yang harus diperhatikan.

Jika kita berkaca dari sepak bola, kenapa Eropa menjadi pusat perkembangan ajang kompetitifnya karena bursa transfer di sana memang sudah bersifat global. Pemain-pemain terbaik dari berbagai belahan dunia, kemungkinan besar, bermain untuk tim Eropa ataupun di liga Eropa.

Di sisi lain, jika kita berbicara tentang ekosistem esports Dota 2 ataupun LoL, bursa transfer di sana juga jangkauannya sudah internasional. Pemain Korea Selatan bisa saja bermain untuk tim Amerika Serikat. Pemain Amerika Serikat bisa bermain di kawasan Asia Tenggara.

Sampai hari ini, baru ada segelintir pemain Indonesia yang bermain di luar negeri seperti BnTeT (CS:GO) yang bermain untuk tim Tiongkok, TyLoo ataupun InYourDream (Dota 2) yang sempat bermain untuk Fnatic ataupun TNC Tigers.

MPL Indonesia sendiri memang sudah pernah mendatangkan beberapa pemain dari luar negeri seperti SaSa yang bermain untuk ONIC. Tentunya, akan lebih menarik lagi jika lebih banyak pemain luar yang berlomba-lomba untuk bertanding di liga Indonesia.

Sebaliknya, hal yang tak kalah menarik adalah jika pemain-pemain MLBB Indonesia bisa ditarik untuk bermain di liga luar negeri. Meski memang kelihatannya menarik, pasar bursa transfer pemain tingkat global masih punya PR panjang seperti penguasaan bahasa agar bisa berkomunikasi satu sama lainnya.
Halaman
1 2 3 Tampilkan Semua

(rns/rns)