Life is Strange Episode 3: Ah, Butterfly Effect Bikin Penasaran Saja... - Halaman 2

Review Game

Life is Strange Episode 3: <i>Ah, Butterfly Effect</i> Bikin Penasaran Saja...

- detikInet
Selasa, 26 Mei 2015 09:29 WIB
Halaman ke 2 dari 3

Fokus cerita di episode ketiga lebih menitikberatkan kisah persahabatan antara Max dan Chloe. Sementara kasus Kate yang terkena isu cyberbullying -- penyebaran video jebakan asusila -- oleh beberapa temannya di sekolah harus dikesampingkan. Jadi di episode kali ini Anda tak akan melihat penampakkan dari Victoria and the Gang, Kate, serta beberapa karakter pendamping lainnya.

Lagi-lagi, game dibuka dengan adegan Max terbangun dari tidurnya. Hanya saja, kali ini Max terbangun di malam hari. Max baru saja melalui hari yang berat, dimana Kate mencoba untuk bunuh diri dengan melompat dari atap gedung yang untungnya berhasil diselamatkan. Peristiwa itu pun memaksa ia harus bersaksi di depan kepala sekolah, bersama dengan beberapa orang lainnya, termasuk Nathan Prescott.

Di tengah-tengah kegalauan di malam hari itu, ia pun kemudian mendapat ajakan berupa SMS dari Chloe untuk menyusup ke dalam sekolah. Max dan Chloe memang telah berjanji untuk mengungkap semua kasus yang terjadi di Blackwell Academi dan Arcadia Bay, termasuk memecahkan misteri hilangnya Rachel Amber, teman Chloe yang juga seorang gadis populer di sekolah yang hilang begitu saja.



Untuk pertama kalinya dalam dua episode terakhir Anda akan merasakan suasana malam yang cukup mencekam di Blackwell Academy. Dengan bermodalkan penerangan secukupnya dari ponsel milik Max, Anda akan diajak berpetualang menjelajah seluruh isi sekolah di malam hari. Meskipun sesekali terdengar bunyi burung hantu dan benda jatuh, namun untungnya tidak terjadi hal-hal yang menyeramkan. Toh, ini juga bukan game horor.

Tak sekadar menyusuri lorong dan kelas, seperti di episode pertama dan ke dua, Anda juga akan menemukan lokasi baru di sekolah, yakni ruang Kepala Sekolah dan Blackwell Gym atau kolam renang.

Pemilihan lokasi di episode ketiga ini sebenarnya lebih kepada penggabungan episode pertama dan kedua, dimana selain berkutat di sekolah Anda juga akan bermain di sekitar rumah Chloe dan Two Whales Diner.



Lalu bagaimana dengan gameplay? Cukup sudah perkenalan di episode pertama dan sedikit bereksperimen di episode kedua. Karena sudah memasuki episode yang ketiga yang notabene sudah masuk setengah perjalanan, maka kali ini gamer harus benar-benar dituntut cermat dalam mengamati situasi dan bagaimana memanfaatkan kekuatan Max dengan benar. Kalau bisa dibilang, episode Chaos Theory ini lebih tricky dari episode sebelumnya.

Seperti misalnya, ketika Max dan Chloe mencoba untuk masuk ke ruang Kepala Sekolah dengan cara meledakkan pintu. Sontak alarm pun berbunyi, lalu apa yang harus Anda lakukan? Tentu saja dengan masuk ke dalam ruangan dan memutar kembali waktu sebelum pintu diledakkan. Lalu ketika Max harus kucing-kucingan dengan penjaga sekolah yang memergoki ada suara dari dalam sekolah. Sebenarnya ketimbang aksi, kekuatan rewind milik Max lebih sering digunakan untuk percapakan.

Kendati dari awal Anda akan disajikan oleh adegan-adegan permainan yang menarik, namun nyatanya klimaks justru terjadi di akhir-akhir cerita. Secara mengejutkan, tiba-tiba Max mendapat kekuatan lain yang tidak ia duga, yakni butterfly effect.

Anda tahu film The Butterfly Effect 2 yang tayang pada tahun 2006 silam? Bila diperhatikan kekuatan baru yang dimiliki oleh Max sama persis dengan apa yang dipraktekkan di film tersebut.



Secara tidak sengaja, ketika Max tengah memandangi foto masa kecilnya dengan Chloe tiba-tiba saja Max terhisap ke dalam foto dan kembali di masa-masa yang sama persis dengan apa yang terjadi di dalam foto. Max besar berada di dalam tubuh Max ketika umur 13 tahun. Semua yang ia lakukan di masa lalu ternyata mengubah keadaan di masa sekarang.



(Ardhi Suryadhi/Ardhi Suryadhi)
Halaman Selanjutnya
(Ardhi Suryadhi/Ardhi Suryadhi)