Meracik Street Photography yang Spontan, Alami & Atraktif

Tips Fotografi

Meracik Street Photography yang Spontan, Alami & Atraktif

Ari Saputra - detikInet
Selasa, 08 Mar 2016 09:25 WIB
Membaca koran di persimpangan jalan. ISO 1250, f/6,7, dan speed 1/350. (Foto: Ari Saputra/detikInet)Foto: detikINET/Ari Saputra
Jakarta - Mendapatkan foto street photography itu susah-susah gampang. Susah karena perlu keberuntungan menangkap momen dan timing tepat. Sebaliknya terasa lebih mudah karena tidak mensyaratkan properti maupun unsur keindahan pada umumnya seperti langit biru maupun model cantik.  

Selain itu, street photography bisa dilakukan di jalanan sehingga bisa dilakukan sambil lewat, dengan kamera apa saja tanpa peralatan yang mahal. Berikut sejumlah tips untuk memperoleh foto-foto street photography dengan maksimal.

Pertama, kenali medan terlebih dahulu seperti jalanan, kondisi kota hingga perilaku masyarakat menghadapi kamera. Jika sudah terbiasa dengan turis atau kamera, biasanya warga lokal tidak ada masalah untuk dijepret. Namun jika masih risih dengan kehadiran kamera, fotografer perlu lebih santun saat memotret.

Kedua, gunakan kamera atau peralatan yang memadai. Kamera tidak perlu besar dan berat dalam street photography. Kamera prosumer, new entry, mirrorless atau smartphone bisa menjadi prioritas saat street photography.

Pilihlah lensa dengan sudut pandang yang rasional. Misalkan pilihan lensa 24mm, 28mm atau 35mm pada ukuran full frame. Daya jangkau ketiganya sudah mencukupi untuk berburu street photography. Kalaupun mempunyai lensa zoom (misalkan 24-70mm) fokuslah pada sudut 24mm untuk pengambilan gambar.   
Melintasi jalanan Tokyo. ISO 640, f/5,6, dan speed 1/1000. (Foto: Ari Saputra/detikInet)
Bagaimana dengan lensa smartphone? Tidak jauh berbeda karena biasanya equivalent dengan 28 atau 35mm sehingga tidak ada masalah berarti.

Ketiga, temukan spot yang representatif terlebih dahulu. Bisa di sebuah pengkolan jalan, persimpangan atau dinding kota yang menarik. Pastikan spot tersebut menarik secara visual atau mempunyai pencahayaan yang atraktif.

Susun sebuah komposisi imaginer dari spot tersebut. Perkirakan kemungkinan gambar yang diperoleh dari titik Anda memotret. Termasuk kemungkinan siluet, framing atau nge-flare.
Papan reklame di stasiun kereta bawah tanah di Yokohama. ISO 2000, f/4, dan speed 1/250. (Foto: Ari Saputra/detikInet)
Keempat, jepret momen-momen menarik dari spot yang sudah Anda bingkai dengan spontan dan atraktif. Gunakan feeling dan perasaan saat memencet shutter sehingga foto yang dihasilkan bukan sekadar hasil teknik semata. Gunakan komposisi yang nyaman dan sampaikan apa yang Anda lihat dan rasakan lewat bahasa visual.

Kendati begitu bukan berarti kemampuan teknis (ISO-diafragma-speed) tidak penting. Pemilihan ISO yang tepat mampu menghindari gambar terlampau terang (over exposure). Menentukan tingkat speed maupun diafragma juga perlu diperhatikan sehingga hasilnya sesuai kebutuhan.

Jika pusing dengan aturan teknis, gunakan mode otomatis atau time priority (speed priority). Tidak perlu malu menggunakan mode otomatis karena momen jauh lebih penting. Saat di-share ke media sosial sekalipun tidak akan terlihat mode apa yang Anda gunakan, bukan?

Kelima, gunakan efek-efek khusus sesuai interest fotografer. Misalkan sedang suka hitam-putih gunakan pilihan BW di kamera maupun mengubah di komputer. Dapat juga menggunakan efek sephia, efek film klasik, vintage atau justru tidak menggunakan efek apa-apa sehingga terlihat apa adanya.

Oh iya, sentuhan personal dari setiap fotografer tersebut yang bakal membuat foto street photography bakal berbeda dengan fotografer lain. Gunakan cita rasa yang orisinil untuk menghasilkan foto yang unik dan menarik.  Selamat mencoba.
Menunggu lampu hijau di persimpangan jalan di Tokyo. ISO 400, f/2,8, dan speed 1/750. (Foto: Ari Saputra/detikInet)
(Ari/ash)