Ketika Kamera Ponsel Dipaksa Continous Shoot

Review Produk

Ketika Kamera Ponsel Dipaksa Continous Shoot

- detikInet
Rabu, 15 Okt 2014 07:14 WIB
ilustrasi (gettyimages)
Jakarta -

Sebenarnya sudah cukup banyak yang menyediakan fasilitas continous shoot -- jepretan berturut-turut -- pada kamera ponsel. Namun kualitasnya tentu berbeda-beda.

Kualitasnya ditentukan beberapa faktor. Asalkan prosesor mencukupi, tembakan beruntun ini bukan mimpi, bahkan makin memanjakan pengguna kamera ponsel.

Pekan lalu, detikINET berkesempatan mencoba kamera HTC Desire Eye sehari setelah peluncuran perdana di New York. Memang tidak ada menu continous shoot di kamera selfie ini. Akan tetapi, dengan menekan tombol 'shutter' secara berturut-turut pada sebuah adegan gerak yang sama, hasilnya di luar dugaan.

Ia mampu merekam secara presisi dengan momen yang akurat. Bahkan, dengan menggunakan kartu memori berkecepatan 60mbps, HTC Desire Eye dapat menjepret hingga 8 frame foto per detik/fps!

Selidik punya selidik, HTC Desire Eye dibekali kekuatan RAM 2GB dengan prosesor Qualcom Snapdragon 801 quad core berkekuatan 2,3 GHz. Kameranya dilengkapi dengan sensor BSI, f/2.2, lensa 28mm, fitur wide angle, HDR, dual LED flash, serta auto focus dengan zoom capability.

Sehingga pada cahaya alami yang melimpah, lensa akan sangat cepat mengunci fokus dan membidik subjek dengan segera. Setelah terkunci, maka memencet tombol shutter semudah mengetab layar tablet pada umumnya.

Saat mencoba, proses penyimpanan gambar mulai melambat pada frame ke-12 dan seterusnya. Hal ini dimungkinkan karena beban kerja saat data ditransfer dari kamera menuju memori.

Dengan hasil maksimal tersebut, maka akan sangat mudah merekam foto-foto selfie sehari-hari. Kecepatan rana HTC Desire Eye bisa memimalisir foto-foto mata merem atau terlambat senyum bila sedang selfie beramai-ramai.

Belum lagi tambahan flash (lampu kilat) di kamera selfie, maka foto backlight dengan muka gelap mudah dihindari. Tidak mengherankan bila HTC Desire Eye memproklamirkan diri sebagai raja ponsel selfie.



Pada contoh pertama, model melakukan lompatan di rooftop Studio 450, New York. Sesi ini hanya mengandalkan sinar matahari dan sebuah continous light dari arah berlawanan untuk menghindari backlight.

Dalam hitungan ketiga, model melompat. Tetapi untuk merekam adegan melayang, tombol foto sudah ditekan pada hitungan kedua hingga model selesai melakukan lompatan. Total frame yang diperoleh yakni 8 frame dalam sebuah momen satu detik tersebut.



Contoh kedua diarahkan kepada gerakan yang lebih lembut yakni bulu-bulu beterbangan. Model yang digunakan adalah penari balet. Pencahayaan hanya lighting alami berupa cahaya samping dari jendela kaca transparan.

Setidaknya 7 fps diperoleh pada sesi ini karena sensor kamera bekerja lebih keras pada cahaya yang lebih redup. Setelah frame ke-11, sempat terjadi delai satu hingga dua detik karena data sedang dikirim ke kartu memori.




Contoh ketiga dibuat lebih cepat, bahkan lebih cepat dari contoh pertama. Yakni membuat cipratan air kepada model dan menghabiskan waktu setengah detik.

Nah, dalam hitungan setengah detik ini, kamera HTC Desire Eye mampu merekam 4 frame dengan hasil yang cukup memuaskan. Bahkan untuk ukuran kamera ponsel, jauh diatas rata-rata. Padahal, pencahayaan hanya mengandalkan lighting alamiah dari cahaya matahari.

(Ari/rou)