Berita dari dunia fotografi pada 8 September terasa seperti penanda berakhirnya sebuah era. Pentax, merek yang selama ini tetap berkomitmen mengembangkan teknologi DSLR, akhirnya menghentikan produksi DSLR terakhirnya, Pentax K-1 II.
Meskipun perusahaan tersebut masih menjanjikan konsep kamera DSLR baru di masa depan, belum ada kejelasan mengenai teknologi maupun model yang akan menyusul. Dalam konteks itu, penghentian produksi K-1 II sulit dibaca sebagai masa istirahat yang singkat.
Di sisi lain, Canon dan Nikon telah memberi sinyal, setidaknya secara tersirat, bahwa pengembangan teknologi DSLR mereka berhenti pada 2021-2022. Keduanya kini memusatkan perhatian pada sistem kamera mirrorless masing-masing. Produksi DSLR memang belum sepenuhnya hilang, tetapi jumlahnya terbatas, terus menurun, dan hanya mencakup model-model tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Surutnya DSLR tidak terjadi dalam semalam-dan penyebabnya bukan semata-mata perkembangan kamera ponsel. Masalah utamanya terletak pada keterbatasan mekanis yang melekat pada struktur kamera DSLR itu sendiri.
DSLR mengandalkan cermin internal untuk memantulkan cahaya ke jendela bidik. Mekanisme ini kompleks, mahal, dan tidak sepenuhnya sempurna. Setiap kali rana ditekan, getaran internal kamera berpotensi muncul dan mempengaruhi ketajaman foto. Konsekuensinya, bodi kamera juga menjadi lebih tebal dan berat.
Sistem mirrorless menghapus kebutuhan akan cermin tersebut, sehingga kamera dapat dibuat jauh lebih ringkas. Teknologi ini juga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan kinerja dan ketepatan autofokus melalui pengenalan subjek. Sebaliknya, kamera DSLR masih bergantung pada sensor fokus terpisah, dengan cakupan titik fokus serta akurasi yang umumnya tidak sefleksibel sistem kamera mirrorless.
Kamera modern tidak lagi dipakai hanya untuk fotografi, videografi kini menjadi kebutuhan utama. Namun, kamera DSLR pada dasarnya dirancang untuk memotret. Saat merekam video, cerminnya harus dikunci dalam posisi terangkat, sebuah kompromi arsitektural yang membuat sistem ini semakin kurang relevan dan terasa membebani.
Ketika produsen beralih ke sistem mirrorless yang lebih efisien, DSLR juga menghadapi persaingan dari kategori gear lain, termasuk smartphone dan action cam. Akibatnya, skala ekonomi dan angka penjualan DSLR terus merosot.
Dalam kondisi seperti itu, produsen kamera DSLR sulit mempertahankan harga dan daya saing ketika volume penjualannya terus menurun. Pentax, misalnya, dilaporkan hanya mampu mengapalkan sekitar 10 ribu unit DSLR per tahun, angka yang sangat kecil dibandingkan jutaan kamera mirrorless yang diserap pasar global saat ini.
Meski kabar ini terasa pahit bagi pengguna DSLR, berakhirnya produksi kamera Pentax tidak serta merta berarti kamera DSLR yang sudah dimiliki tiba-tiba kehilangan fungsinya. Kamera tersebut tetap dapat digunakan untuk menikmati fotografi selama pemiliknya menginginkannya.
Namun, ketika kamera DSLR rusak dan tidak lagi dapat diperbaiki, atau biaya perbaikannya sudah tidak masuk akal secara ekonomis, beralih ke kamera mirrorless layak dipertimbangkan. Sistem ini masih terus dikembangkan dan didukung untuk jangka panjang, sekaligus menawarkan pengalaman memotret maupun merekam video yang lebih praktis dan nyaman.
(rns/fay)