Potret Bangunan Super Mahal Tapi Jadinya Memprihatinkan

Malaysia’s Forest City: rencananya surga impian senilai USD 100 miliar ini dapat dihuni oleh 70.000 penduduk pada tahun 2040 dan mulai dibangun pada tahun 2016. Akan tetapi pada April lalu, baru sebanyak 60 unit rumah terjual dan 70% pembeli yang berasal dari China membatalkan pembelian karena China membatasi perputaran uang guna mencegah penduduknya meninggalkan negara. (Foto: Businessinsider)

New York City’s Oculus: Sebagai bagian dari rekonstruksi bangunan di kawasan Financial District, direkrut seorang arsitek bernama Santiaga Calatrava, untuk membangun pusat transit di dekat One World Trade Center. Dengan biaya proyek sebesar USD 4 miliar, tempat ini malah menuai kritikan karena hasilnya yang membosankan dan dinilai tidak sesuai dengan ekpektasi dan anggaran. (Foto: Businessinsider)

Ryugyong Hotel di Korea Utara: Hotel yang dibangun pada tahun 1987 ini diniatkan untuk menjadi hotel tertinggi di dunia. Ryugyong menghabiskan dana proyek sebesar USD 1 miliar hingga USD 2 miliar. Akan tetapi, karena dana yang tidak lagi turun dari Uni Soviet sejak tahun 1992, menyebabkan pembangunan hotel ini terhambat.  (Foto: Businessinsider)

Rio’s Olympic Park: Olimpiade yang diadakan pada tahun 2016 lalu menghabiskan dana sekitar USD 13 miliar yang berasal dari swasta dan publik. Selain venue olahraga, terdapat kondominium yang dijual di Rio’s Olympic Park. Sayangnya penjualan di wilayah ini gagal karena masalah dana dan segala bentuk kecacatan yang terjadi. (Foto: Businessinsider)

San Francisco Shopyard: komplek perumahan di tepi pantai yang relatif terjangkau. Penghuni dapat membeli properti di Shopyard dengan harga USD 1 Juta hingga USD 1,6 juta. Pengembang mengatakan bahwa wilayah ini akan rampung di tahun 2030. Sayangnya, karena kelalaian para kontraktor dalam membersihkan wilayah tersebut sebelum dibangun, masih ada bahan material berbahaya di daerah pembangunan yang menghambat berdirinya San Fransisco Shopyard. (Foto: Businessinsider)

International Business District (IBD) di Korea Selatan: Proyek yang dimulai pada tahun 2002 ini dibangun guna mereduksi penggunaan mobil dan menghabiskan dana sebesar USD 40 miliar. Rencananya, IBD akan memusatkan transportasi pada bus, subway, dan sepeda. Dikarenakan jauhnya wilayah IBD dari Seoul, wilayah ini seperti ditinggalkan oleh para penghuninya. (Foto: Businessinsider)

Yujiapu di China: sebuah distrik bisnis di China yang terinspirasi dari lingkungan di Manhattan. Distrik ini mulai dibangun pada tahun 2009 dengan dana yang dibutuhkan sebesar USD 30 miliar. Sayangnya, di tahun 2018, bangunan tersebut terlihat seperti ditinggalkan. Meskipun kereta kecepatan tinggi telah dibangun di Tianjin, namun ternyata tak mendukung pertumbuhan bisnis di daerah Yujiapu.  (Foto: Businessinsider)