Layanan 4G LTE yang diselenggarakan Internux ini menggunakan spektrum 2,3 GHz, sesuai lisensi yang dimenangkannya dalam tender broadband wireless access (BWA) pada pertengahan 2009 lalu.
Di Jabodetabek, Internux menyiapkan 1.500 base station TDD LTE untuk layanan 4G ini. Rencananya dalam dua tahun ke depan, jumlah BTS akan ditambah menjadi 3.500 titik di 2015.
Tak tanggung-tanggung, di tahun pertama kehadirannya, Internux berani pasang target tinggi. Dari 30 juta penduduk di Jabodetabek, 10 juta ditargetkan akan jadi pelanggannya dalam waktu kurang dari setahun.
Oleh Internux, layanan 4G LTE ini dipasarkan dengan merek dagang Bolt. Brand ini diharapkan menjadi simbol representatif kecepatan akses internet generasi keempat saat ini.
Dalam peluncurannya, layanan ini mengusung tagline 'Bye-bye 3G'. Kecepatan yang ditawarkan Bolt ini hingga 75 Mbps. Namun jika penggunanya mencapai 100 orang di tiap BTS, maka speed yang dijanjikan sekitar 25-30 Mbps. "Masih 10 kali lipat lebih kencang dibanding 3G," kata Internux.
Paket prabayar Bolt dihargai Rp 25.000 untuk kuota 8 GB. Namun untuk menggunakannya, harus terlebih dahulu membeli perangkat mobile Wifi (Mifi) 4G seharga Rp 274.000. Dengan demikian, total harga untuk pembelian pertama adalah Rp 299.000.
Layanan 4G LTE ini juga bisa di-share lewat Mifi Bolt ke perangkat smartphone, tablet, laptop maupun PC. "Kami belum ada rencana bundling dengan smartphone, karena di Indonesia belum ada smartphone 4G LTE yang beroperasi di 2,3 GHz," kata Chief Technology Officer Internux Devid Gubiani.
Jika kuota internet habis, pengguna Bolt dapat melakukan isi pulsa di toko atau retailer dan minimarket yang telah bermitra dengan Internux.
Jaringan Internux hanya melayani akses data internet, tidak dapat digunakan untuk telepon maupun SMS. "Lisensi kami di 2,3 GHz belum termasuk penomoran. Tak mengapa, sekarang kan eranya layanan data," kata Devid.
Dalam ekspansinya, Internux mengalokasikan belanja modal sebanyak USD 550 juta. Perusahaan ini juga dibantu oleh First Media, Huawei, ZTE, serta Mitsui Corp dari Jepang. Mitsui bahkan ikut menyuntik dana segar sebesar USD 1 juta untuk sokongan investasinya.
Dengan First Media di belakangnya, rumor tentang akuisisi Internux jadi semakin kencang. Apalagi dalam peluncurannya, para petinggi First Media juga banyak yang hadir untuk mendampingi Internux, khususnya Dicky Moechtar, Direktur First Media yang disebut-sebut menjabat sebagai CEO Internux. "Tidak, kami hanya memberikan bantuan teknis saja," elak Dicky saat ditemui detikINET di sela acara.