×
Ad

Gumoh Orang Luar Numpang Buang Sampah Sampai Kumuh, RT 11 Bikin Gebrakan

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 15 Okt 2026 06:15 WIB
Komposter Keliling atau Komling dilakukan terjadwal, warga dapat giliran jadi petugas. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET
Jakarta -

Dulunya, RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kerap dipandang sebelah mata. Areanya pada masa itu tidak cantik dengan hiasan mural dan air terjun buatan di lorongnya. Tidak pula dianggap aman sebelum munculnya program security contohnya E-Gate 11.

Malahan dulu, RT 11 menjadi area yang kurang terjaga kebersihannya. Arif Wicaksono (23) karang taruna RT 11 bercerita kepada detikINET bahwa pergantian RT sebelumnya menjadi Imam Basori (43) menjadi titik balik semuanya.

"Waktu itu pertama kali Pak Ibas (panggilan Imam Basori) jadi RT, inovasi pertamanya yaitu mengubah lapangan ini," terangnya di lapangan yang kini jadi tempat warga belajar Bahasa Inggris.

"Jadi dulu ini tempat pembuangan sampah. Semua warga, bahkan orang luar malah yang lebih sering buang sampah ke sini. Warga sini udah pada gumoh juga, kan. Nah pas banget, bergantian RT, Pak Ibas tahun 2019," lanjutnya.

Pada pertama kali Ibas menjabat, tempat yang jadi basecamp RT 11 ini lah yang pertama kali dibenahi. Bergotong royong bersama warga, sampah yang ada ditumpuk sehingga lingkungannya menjadi bersih.

Ketua RT 11 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Imam Basori (Ibas) yang terkenal lewat inovasi keamanan warga seperti E-Gate 11 sampai GPS tracker. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET

Gebrakan Pak RT

Ibas akhirnya datang dan menyapa detikINET. Ia mengaku baru selesai memberikan edukasi kepada warga di daerah Pinang Ranti, berbagi cara menjadikan lingkungan RT yang lebih bersih, sehat, dan aman.

Kepada kami, Ibas menuturkan ada empat pilar yang ingin dibangun RT 11: keamanan, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Poin pertama sudah diwujudkan lewat rangkaian program seperti E-Gate 11, CCTV, 'Si Jaga Warga' sabagai pesan masyarakat, sampai 'Panic Button'.

Edukasi, dijalankan melalui adaptasi kebiasaan berbahasa Inggris untuk seluruh warga, dari anak-anak hingga lansia. Caranya dengan mengundang pendidik dari Kampung Pare, Kediri, agar warga mulai lancar berbahasa Inggris. Setidaknya untuk berkomunikasi.

Semua pilar, membutuhkan peranan dari teknologi. Termasuk juga untuk ranah lingkungan.

"Kita melihat permasalahan, dan pendekatan kita transformasi teknologi. Revolusi 4.0. Mau nggak mau kan kita bawa permasalahan yang ada, khususnya pada permasalahan sampah, kita jawab dengan teknologi," ujarnya.

Masyarakat dan pengurus melakukan diskusi guna menyelesaikan masalah sampah yang mengganggu. Untuk membuat biopori jumbo atau teba -- lubang yang dikembangkan secara modern sebagai lubang komposter untuk mengolah sampah organik -- mereka kekurangan lahan.

"Itu kan membutuhkan waktu lama, belum lagi nanti ada komplain dari masyarakat, "Pak kenapa bikin di sini? Kan, saya yang rumahnya di lintasan kena baunya", dan sebagainya," Ibas menimbang-nimbang. Apalagi tidak semua warganya punya tanah di sana, tak sedikit juga yang tinggalnya mengontrak.

Setelah melakukan identifikasi masalah, tercetus ide 'Komling'.



Simak Video "Video Kemen PU Minta Maaf soal Viral Surat Bupati Sigi, Pastikan Sudah Diarsipkan"


(ask/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork