×
Ad

RT Anti Curanmor, Bagi-bagi GPS Tracker ke Warga sampai Punya E-Gate

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 14 Okt 2026 09:10 WIB
Gerbang utama RT 11 yang dikenal dengan E-Gate 11 dan sistem keamanan ketat untuk warganya. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET
Jakarta -

Sebuah gang di daerah Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi viral karena E-Gate dan pembagian GPS tracker. RT ini dikenal dengan Erte English dan program Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan) yang diterapkan di sana.

Seru sekali saat detikINET berkunjung langsung ke sana, karena semua warga terlihat saling kenal dan sapa satu sama lain. Rumahnya padat penduduk, tapi terlihat bersih dan terpampang mural cantik (yang ternyata ada di sepanjang tembok RT 11) buatan Pakde Adi Bagor (60).

"Setiap orang ada bagiannya. Kebetulan aku bidangnya hanya untuk landscape dan mural," kata Pakde kepada detikINET, Selasa (13/10/2026).

Pakde Adi Bagor (60) pembuat mural di RT 11. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET

Akan tetapi, bukan hanya itu yang menarik perhatian detikINET. Di RT 11, terdapat begitu banyak penerapan teknologi yang sebegitunya guna menjaga lingkungan RT 11 RW 7 jauh dari sasaran pelaku kriminal.

Di gerbang utama, sudah ada 'E-Gate 11', sebuah portal besi yang menggunakan RFID (Radio-Frequency Identification). Di beberapa titik juga ada E-Gate 11, total ada empat area, dengan jadwal penutupan pukul 00.00-06.00.

Menariknya, tenaga listrik untuk gate tersebut menggunakan panel surya yang semuanya menggunakan dana operasional RT dari pemerintah.

Sebenarnya, seperti apa cerita pembangunan RT 11 RW 7 Gandaria Utara hingga secanggih sekarang?

Kisah awal RT 11 jadi teladan

Kita mulai kisah ini dari kepedulian Imam Basori. Seorang Ketua RT yang terpilih pada 2019 dan langsung mengabdikan dirinya untuk lingkungan.

Imam Basori (43) memiliki pangkat sebagai Ipda. Dia mengambil kuliah S1 jurusan Elektronika dan lanjut mengambil program studi Magister Administrasi Publik (MAP) di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Pada era pandemi COVID-19, Ibas (sapaan akrabnya) mulai bebenah bersama warga. Sebuah tempat mereka sulap menjadi lapangan untuk membuat RTnet.

"Waktu itu kan nggak boleh ke sekolahan, jadi sekolahnya di sana (di basecamp RT 11). Kita pasang WiFi di situ dari dana operasional RT. Kita kan dapet dari Pemprov Jakarta, dulu waktu 2019 itu Rp 2 juta," terang Ibas.

Kemudian, RT 11 sepakat memasang WiFi dengan bulanan Rp 400.000 yang mampu terkoneksi dengan 30 perangkat. Anak-anak belajar di sana, sembari tetap memakai masker dan mempraktikkan social distancing.

Dari sana, Ibas sadar ada potensi di masyarakat yang perlu dikembangkan. PR pertamanya adalah mengembalikan marwah atau mental masyarakat yang dulu down karena dipandang sebelah mata.

"Memang dulu lingkungan kami itu dipandang sesuatu yang zona hitam dan memang itu tantangan bagi kami, mengembalikan mentalnya masyarakat. Yang memang kurang mendapatkan ruang. Akhirnya kita coba pendekatan dengan masyarakat biar bisa dirangkul, salah satunya yang kami lakukan pertemuan bulanan dengan warga untuk membangun hubungan emosional," akunya.

Setiap bulan, Ibas akan membelikan kue ulang tahun. Lalu, warga yang berulang tahun di bulan tersebut akan bersama-sama dirayakan.

"Di situlah muncul kesadaran, partisipasi masyarakat itu tumbuh. Jadi, setelah sudah mulai berjalan, (warga RT 11 bilang -- red) "Ayo Pak bebenah, beresin ini lah," mulai ngecat-ngecat," tuturnya.

Usai membangun mental masyarakat, barulah Ibas mengajak masyarakat untuk melek teknologi. Semua berawal dari kasus curanmor (pencurian motor) yang mulai marak terjadi di daerah-daerah dekat RT 11.

Lanjut soal kehadiran inovasi E-Gate 11 >>>




(ask/rns)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Foto