×
Ad

Donald Trump Ubah Nama AI Jadi Super Intelligence

Virgina Maulita Putri - detikInet
Rabu, 23 Sep 2026 17:30 WIB
Foto: REUTERS/Kylie Cooper
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba mengumumkan nama baru AI. Ia mengubah nama artificial intelligence (kecerdasan buatan/AI) menjadi super intelligence (kecerdasan super/SI).

Dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum Persatuan Bangsa-bangsa, Trump mengatakan ia tidak ingin menggunakan istilah artificial atau buatan karena membuat teknologi itu terdengar palsu.

"Selamat datang di dunia baru super intelligence (kecerdasan super) - SI," kata Trump seperti dikutip dari BBC, Rabu (23/9/2026).

"Mulai sekarang, semua dokumen Amerika Serikat, dan mudah-mudahan juga di seluruh dunia, akan diubah untuk menggunakan istilah yang lebih akurat, yaitu 'super', untuk menggantikan 'buatan'. Jadi istilah yang digunakan adalah 'kecerdasan super'," imbuhnya.

Dalam seminggu terakhir, Trump mengadakan polling di media sosial terkait perubahan nama AI. Ia meminta pengikutnya untuk memilih nama baru untuk AI dari tiga opsi, yaitu Superior Intelligence (kecerdasan superior), Extreme Intelligence (kecerdasan ekstrem), dan Supreme Intelligence (kecerdasan tertinggi).

Setelah beberapa kali melakukan pemungutan suara di platform Truth Social dan X, kecerdasan super terpilih sebagai pemenangnya. Namun, Trump tidak pernah menjelaskan tujuannya mengubah nama AI.

Apakah istilah baru ini akan diadopsi oleh industri teknologi juga masih menjadi pertanyaan. Apalagi istilah kecerdasan superior juga memiliki arti khusus di komunitas teknologi.

Pada tahun 2014, pakar filosofi Nick Bostrom menulis buku bertajuk Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies. Ia mendeskripsikan kecerdasan super sebagai jenis kecerdasan yang jauh melampaui kemampuan manusia di hampir semua bidang.

Kecerdasan super yang dideskripsikan oleh Bostrom saat ini masih sekedar teori, dan menurut sejumlah pakar AI yang ada saat ini belum bisa dikategorikan sebagai kecerdasan super.

"Sistem kecerdasan super, jika benar-benar terwujud, akan dianggap para ahli sebagai teknologi paling penting yang pernah dibuat," kata dosen etika digital dari University of Melbourne Simon Coghlan.

"Menurut perkiraan saya, para profesional akan lebih memilih menggunakan istilah 'SI' untuk tingkat AI yang lebih tinggi, bukan untuk mendeskripsikan AI saat ini. Rasanya teknologi ini belum sampai pada tahap tersebut," kata Ben Leong, dosen ilmu komputer di National University of Singapore.



Simak Video "Video AI Bikin Konsumsi Air Dunia Melejit: Dampaknya Bisa Kekeringan!"

(vmp/vmp)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork