Ketika terjangan air, lumpur, dan puing menyapu wilayah Dhunge Bazaar, Nepal pekan lalu, hampir semua yang dilewatinya rata dengan tanah. Namun, ada satu rumah tetap berdiri tegak dan sejak itu menjadi simbol keselamatan di tengah kehancuran.
Menurut New York Times, rumah warna hijau tersebut milik keluarga Prakash Pyakurel. Berbagai video viral memperlihatkan keluarga itu menatap ke bawah dari balkon saat banjir bergemuruh menghantam bangunan tersebut. Meski dikepung air setinggi atap, rumah itu bertahan.
Saat foto-foto bangunan tersebut beredar di internet, rumah itu pun mendapat julukan rumah hijau ajaib oleh para netizen.
Berbagai video di media sosial memperlihatkan deras air menyapu bawah rumah, menutupinya dengan lumpur serta menjebol pintu dan jendela, sementara penghuninya berlindung di lantai atas. Struktur utama bangunan beton bertulang tersebut kokoh, sehingga mereka selamat tanpa terluka.
Dikutip detikINET dari Independent, para penghuninya diidentifikasi sebagai Prakash Pandey Pyakurel (45), istrinya, dua anak mereka, serta orang tuanya yang sudah lanjut usia.
Pasangan suami istri itu sedang di toko ketika banjir melanda desa. Putra mereka yang berusia tujuh tahun berangkat ke sekolah 15 menit sebelumnya dan putri mereka yang berumur 11 tahun baru bersiap untuk berangkat.
Karena tak banyak waktu mencari tempat aman, pasangan itu berlari kembali ke rumah, dan keluarga tersebut terjebak di sana selama hampir dua jam. Mereka hanya bisa menyaksikan luapan air banjir menghantam rumah dari segala sisi.
"Kami sangat ketakutan. Kami sudah pasrah, merasa ini akhir dari segalanya. Saya katakan kepada semua orang bahwa kita akan mati bersama-sama," ujar istri Prakash kepada Telegraph.
"Kami seperti diberi kehidupan kedua. Semua orang menyebut ini keajaiban. Kami sendiri masih tidak percaya bahwa kami selamat. Setelah melihat videonya, kami sungguh tidak habis pikir bagaimana kami bisa selamat," imbuhnya.
Chhatra Bahadur Pyakurel (67), mengatakan baru saja mengantar cucunya ke halte bus sekolah dan kembali ke rumah ketika banjir bandang. "Awalnya kami tidak tahu apa yang akan terjadi atau apakah kami akan selamat. Namun setelah beberapa saat, kami menyadari tidak ada lagi yang bisa kami perbuat," kata sang kakek.
Kekhawatiran terbesarnya adalah nasib cucu yang baru saja ia antar ke sekolah. "Saya terus berpikir jika kami semua mati, siapa yang akan mengurusnya?" ujarnya. Namun anak laki-laki itu aman. Sekolahnya berada di dataran lebih tinggi, dan keluarga itu berkumpul kembali sehari setelah musibah banjir.
Setelah sekitar satu jam lebih terjebak di atap, para tetangga membantu keluarga tersebut turun menggunakan pipa logam sebagai tangga darurat setelah air surut. Prakash meyakini rumah tersebut selamat karena pilar-pilarnya tertancap dalam hingga ke lapisan batuan.
Ada pula yang berteori gundukan bukit yang menjorok ke jalur terjangan air berpotensi membantu melindungi bangunan tersebut. Hampir sepekan kemudian seiring dibukanya kembali akses jalan, para pengunjung menaiki gundukan tersebut untuk melihat 'rumah ajaib'.
Rumah itu kini ditandai di Google Maps sebagai landmark 'tahan banjir'. Kendati demikian, rasa syukur keluarga itu dibayangi rasa kehilangan. "Sekarang, semua habis," ujar Prakash. Dokumen seperti paspor dan sertifikat tanah hancur dan hilang. Namun yang paling penting, mereka semua selamat.
Simak Video "Video: WNI di Nepal Gambarkan Distrik Rasuwa Sebelum Dihempas Banjir Bandang"
(fyk/fyk)