Konten buatan AI membanjiri media sosial berkat mudahnya akses ke platform seperti ChatGPT dan Google Gemini. Bos Instagram Adam Mosseri bahkan memprediksi populasi konten AI di media sosial akan melampaui konten-non AI.
Mosseri membagikan pemikirannya dalam postingan panjang di Threads tentang tren yang diprediksi akan membentuk Instagram pada tahun 2026. Ia blak-blakan tentang bagaimana AI akan mengubah platform milik Meta tersebut.
"Segala hal yang membuat para kreator penting-kemampuan untuk menjadi diri sendiri, untuk memiliki suara yang tidak bisa dipalsukan-kini tiba-tiba bisa diakses oleh siapa saja yang memiliki alat yang tepat," tulis Mosseri, seperti dikutip dari Engadget, Senin (5/1/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Feed di media sosial mulai dipenuhi dengan segala konten yang sintetis," sambungnya.
Namun Mosseri tampaknya tidak terlalu khawatir menghadapi perubahan ini. Menurutnya ada banyak konten AI yang luar biasa, dan platform media sosial harus mengubah pendekatannya dalam memberi label ke konten yaitu dengan mengidentifikasi media asli, bukan menandai konten AI.
Mosseri berargumen platform media sosial awalnya bisa mengidentifikasi dan memberi label pada konten AI, tapi mereka akan mulai kesulitan ketika konten yang diciptakan AI terlihat semakin realistis.
Konten buatan AI biasanya ditandai dengan watermark khusus, namun label ini bisa dihilangkan dengan mudah. Meta juga mengaku mereka tidak bisa mendeteksi konten buatan AI yang ada di platform-nya secara akurat.
"Saat ini sudah semakin banyak orang yang percaya, termasuk saya, bahwa akan lebih praktis untuk mengidentifikasi media asli ketimbang media palsu. Produsen kamera dapat menandai gambar secara kriptografis saat diambil, sehingga menciptakan rantai kepemilikan," ujarnya.
Baca juga: 2025 Jadi Tahunnya Artificial Intelligence |
Mosseri mengusulkan produsen kamera dan smartphone dengan kamera harus membuat sistemnya sendiri yang cara kerjanya mirip seperti watermark untuk memverifikasi keaslian gambar saat diambil. Namun ia tidak memberikan informasi lebih rinci tentang bagaimana sistem ini akan bekerja atau diterapkan dalam skala besar.
Pria berkacamata ini juga menyarankan kreator untuk membuat konten yang tidak terlalu diedit dan tidak terlalu menarik untuk membuktikan bahwa mereka manusia bukan AI. "Di dunia di mana AI bisa menghasilkan gambar yang sempurna, tampilan yang profesional justru menjadi ciri khasnya," ujarnya.
(vmp/fay)