AI generatif seperti ChatGPT hingga robotika canggih mulai menangani tugas-tugas yang sebelumnya dianggap sebagai domain eksklusif manusia. Walau AI menjanjikan peningkatan efisiensi dan peluang baru, AI juga menimbulkan pertanyaan soal peran tenaga kerja manusia di masa depan.
"Banyak dari kita membicarakan AI seolah sudah ada sejak lama. Secara teknis, memang sudah ada,tapi dalam praktiknya, ChatGPT baru diperkenalkan ke dunia November 2022. Kita baru menjalani ini dua setengah tahun," cetus Johnny C Taylor Jr, presiden dan CEO The Society for Human Resource Management (SHRM)
Taylor mendorong manusia dan AI harus bekerja sama. Ini juga menjadi tips agar manusia tetap dapat mempertahankan pekerjaannya di era AI.
"Jawabannya sederhana, AI plus HI, yaitu kecerdasan manusia. Secara historis, pekerjaan sepenuhnya bergantung pada manusia. Ke depannya, AI akan melengkapi dan memperkuat kecerdasan manusia. Itu akan menjadi ukuran kesuksesan baru," cetusnya.
Bagi karyawan, fokuslah pada bagaimana AI dapat membantu Anda menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih efisien di tempat kerja, alih-alih memandangnya sebagai ancaman bagi pekerjaan.
Seiring kemajuan AI, masih ada area kritis di mana manusia punya keunggulan tersendiri. "Empati adalah salah satu karakteristik dan sifat manusia yang sangat penting yang, setidaknya untuk saat ini, kami rasa takkan pernah dapat ditiru mesin," kata Taylor.
Ia menunjuk sumber daya manusia (SDM). Memahami konteks pribadi dan emosional karyawan membutuhkan nuansa, kasih sayang, dan penilaian yang tak dapat sepenuhnya ditiru algoritma mana pun.
Peran yang membutuhkan kreativitas, keterampilan interpersonal, pengambilan keputusan etis, atau kecerdasan emosional, tak begitu rentan terhadap otomatisasi. Di area ini, manusia memberikan nilai tambah dengan cara yang tak dapat ditandingi AI.
Di sisi lain, otomatisasi dan AI juga memengaruhi pekerjaan fisik, contohnya sudah ada pembersih lantai robotik dan kendaraan otonom. Namun, hambatan non teknis, seperti preferensi konsumen, peraturan hukum, dan pertimbangan biaya, memperlambat adopsi.
"Pesawat secara teknis dapat terbang sendiri. Tetapi penumpang seringkali lebih suka melihat pilot manusia di kokpit," katanya yang dikutip detikINET dari Yahoo News.
Mesin sudah mampu mendeteksi kanker dengan akurasi lebih tinggi daripada manusia, namun penyampaian berita yang mengubah hidup tetap membutuhkan sentuhan humanis dari manusia.
"Mesin dapat mendeteksi kanker paru-paru lebih dini dan lebih tepat. Namun saya tak ingin masuk ke ruang praktik dokter dan mendapati mesin memberi tahu saya menderita kanker. Hanya manusia dapat menyampaikannya dengan empati dan kasih sayang. Kedua peran, manusia dan mesin, sama-sama penting," pungkasnya.
Simak Video "Siapkah Ekosistem AI Dukung Ekonomi Kreatif Indonesia?"
(fyk/fay)