Perusahaan Baru Alphabet Kembangkan AI Untuk Temukan Obat

Perusahaan Baru Alphabet Kembangkan AI Untuk Temukan Obat

Josina - detikInet
Senin, 08 Nov 2021 15:14 WIB
Ilustrasi Obat Herbal
Ilustrasi obat-obatan (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Sebuah perusahaan baru dari Alphabet mengumumkan akan menggunakan metode artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk menemukan obat-obatan.

Induk perusahaan dari Google ini mengatakan pekerjaan tersebut akan dilakukan oleh DeepMind anak perusahaan Alphabet lainnya yang berfokus melakukan berbagai hal inovatif berbasis AI seperti mengukur struktur protein untuk menemukan obat baru.

Dilansir detikINET dari The Verge, Senin (8/11/2021) perusahaan baru ini disebut Isomorphic Laboratories yang akan memanfaatkan kesuksesan AI Google untuk membantu mengidentifikasi obat-obatan jenis baru.

CEO DeepMind Demis Hassabis juga akan menjabat sebagai CEO untuk Isomorphic, tetapi kedua perusahaan akan tetap terpisah dan berkolaborasi sesekali.

Selama bertahun-tahun, para ahli telah menggunakan AI sebagai cara mudah dan cepat untuk membuat dan menemukan obat baru yang dapat mengobati berbagai penyakit.

AI dapat membantu memindai melalui basis data molekul potensial untuk menemukan beberapa yang paling sesuai dengan target biologis tertentu, misalnya, atau untuk menyempurnakan senyawa yang diusulkan.

Isomorphic akan mencoba membangun model yang dapat memprediksi bagaimana obat akan berinteraksi dengan tubuh.

Hassabis mengatakan Isomorphic dapat memanfaatkan pekerjaan DeepMind pada struktur protein untuk mengetahui bagaimana banyak protein dapat berinteraksi satu sama lain.

Ia juga menambahkan perusahaan mungkin tidak mengembangkan obatnya sendiri tetapi menjual modelnya. Ini akan fokus pada pengembangan kemitraan dengan perusahaan farmasi.

Mengembangkan dan menguji obat, bagaimanapun, bisa menjadi tantangan yang lebih berat daripada mencari tahu struktur protein. Misalnya, bahkan jika dua protein memiliki struktur yang cocok secara fisik, sulit untuk mengatakan seberapa baik mereka benar-benar menempel.

Lebih dari 90 persen obat yang berhasil mencapai uji klinis akhirnya tidak bekerja, seperti yang ditunjukkan oleh ahli kimia dan penulis Derek Lowe di Science pada musim panas ini. Sebagian besar masalahnya bukan karena ada yang salah pada tingkat molekuler.

Pekerjaan yang dilakukan di DeepMind dan pekerjaan yang diusulkan di Isomorphic dapat membantu mengatasi beberapa hambatan penelitian tetapi bukan perbaikan cepat untuk tantangan pengembangan obat yang tak terhitung jumlahnya.

"Pekerjaan yang melelahkan dan menguras sumber daya dalam melakukan evaluasi biokimia dan biologis, misalnya fungsi obat-obatan akan tetap ada," kata Helen Walden, seorang profesor biologi struktural di Universitas Glasgow.



Simak Video "Google Akan Berikan Pelatihan IT Gratis untuk 10 Ribu Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/fay)