Netizen Ramai Bertanya: Lebaran Rabu atau Kamis?

Netizen Ramai Bertanya: Lebaran Rabu atau Kamis?

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 10 Mei 2021 19:02 WIB
Petugas mengamati posisi hilal menggunakan teropong saat pemantauan Hilal di Pantai Jerman, Kuta, Badung, Bali, Senin (12/4/2021). Pengamatan yang dilakukan di kawasan Bali selatan untuk menentukan awal Ramadhan 1442 H tersebut tidak berhasil melihat Hilal karena tertutup awan tebal. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc.
Pemantauan hilal. Foto: Antara Foto
Jakarta -

Umat Muslim sebentar lagi merayakan Lebaran. Banyak yang bertanya-tanya, Idul Fitri tahun ini akan jatuh pada hari Rabu (12/5) atau Kamis (13/5)?

Untuk diketahui, organisasi Islam Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1442 H atau Idul Fitri 1442 H/ 2021 jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021. Sedangkan Kementerian Agama (Kemenag) baru akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1442 H pada 11 Mei 2021.

Melalui Twitter, netizen pun mulai penasaran mengenai kepastian Lebaran. Ada yang yakin bahwa Lebaran jatuh pada hari Kamis (13/5), sebagian lagi bersiap-siap karena mungkin saja hasil pengamatan hilal menetapkan Lebaran 2021 jatuh pada hari Rabu (12/5).

"Sidang isbatnya Selasa tgl 11 Mei kalo hasil pengamatannya hilal keliatan berarti Rabu udah lebaran woy siap-siap," kata salah satu netizen.

"Lebaran hari kamis atau rabu sih. Di google rabu di kalender gue kamis," tanya yang lain.

"Rabu atau nggak Kamis udah lebaran ya Allah, tidak terasa," timpal netizen lainnya.

"Kita lebaran hari apa ya? Rabu atau Kamis? Temen gue pada heboh ada yg bilang Rabu ada yg bilang Kamis," sahut netizen lain.

Untuk mengetahui kepastiannya, kita memang harus menunggu hasil sidang isbat Kemenag Selasa (11/5). Sidang isbat selalu diawali dengan paparan mengenai posisi bulan sabit baru (hilal) berdasarkan data astronomi (falak).

Untuk menentukan hilal, biasanya dilakukan dengan dua cara yakni rukyat dan hisab. Rukyat adalah metode pemantauan hilal menggunakan pandangan mata. Adapun hisab ialah metode pemantauan hilal berdasarkan perhitungan matematik astronomi.

Hilal bisa dilihat setelah terjadinya konjungsi di arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam penanggalan kalender Islam.

Untuk kriteria penentuan awal bulan dalam kalender hijriah, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menekankan untuk memerhatikan faktor ketampakan atau visibilitas hilal yakni elongasi Bulan menjadi 6,4 derajat dan tinggi bulan minimal 3 derajat.

Ada juga kriteria lain yang diperhatikan untuk menentukan hilal salah satunya faktor cuaca. Dianjurkan melakukan pengamatan dari tempat tanpa penghalang (pohon atau gedung) arah pandang ke arah barat. Titik terbenamnya Matahari akan menjadi acuan untuk melihat hilal karena posisinya tidak jauh dari titik tersebut.

Apabila hilal terlihat beberapa saat setelah magrib (qobla ghurub), maka petangnya akan ditetapkan sudah masuk 1 Syawal. Tapi jika para pengamat (perukyat) tidak melihat hilal, maka petang di hari tersebut dinyatakan sebagai malam 30 Ramadan dan keesokan petangnya baru ditetapkan sebagai 1 Syawal.



Simak Video "183 Napi di Lapas Tasikmalaya Dapat Remisi Hari Raya"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)