Heboh Hoax Terjemahan AstraZeneca, 'Senjata yang Membunuh'

Heboh Hoax Terjemahan AstraZeneca, 'Senjata yang Membunuh'

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 23 Apr 2021 13:05 WIB
Viral di media sosial Facebook, AstraZeneca disebut memiliki arti senjata yang membunuh. Tentu saja ini bikin heboh karena AstraZeneca merupakan salah satu nama produsen vaksin COVID-19.

AstraZeneca adalah nama perusahan yang memproduksi vaksin corona di Inggris. Dari klaim di Facebook, artinya akan sangat menyeramkan karena berasal dari Bahasa Latin. Kata tersebut jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris berarti weapon that kills (senjata yang membunuh).
AstraZeneca disebut berarti 'senjata yang membunuh' dan langsung dibantah Kominfo. Foto: Kominfo
Jakarta -

Viral di media sosial Facebook, AstraZeneca disebut memiliki arti 'senjata yang membunuh'. Tentu saja ini bikin heboh karena AstraZeneca merupakan salah satu nama produsen vaksin COVID-19.

AstraZeneca adalah nama perusahaan yang memproduksi vaksin corona di Inggris. Dari hoax yang beredar di Facebook, disebutkan artinya akan sangat menyeramkan karena berasal dari bahasa Latin. Kata tersebut jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti weapon that kills (senjata yang membunuh), begitu tulisan hoax yang beredar.

"Don't worry. It's just another coincidence," tulis salah seorang netizen dengan emoji menyindir.

Tentu saja kabar ini dibantah, terlebih Kementerian Komunikasi dan Informarmatika (Kominfo) juga langsung memberikan penjelasan. Dari laman resminya, Kominfo menekankan bahwa AstraZeneca adalah merupakan perusahaan gabungan antara Astra AB dan Zeneca. Astra AB dibangun pada 1913 di Södertälje, Swedia.

"Kata Astra berasal dari kata astron (Bahasa Yunani) yang berarti bintang. Sementara itu, perusahaan Zeneca dibentuk pada Juni 1993 oleh badan farmasi dari Imperial Chemical Industries," terang Kominfo.

Sementara untuk Zeneca, dibuat sesuai instruksi badan tersebut, yang dimulai dengan huruf awal atau akhir alfabet, mudah diingat, tidak lebih dari tiga suku kata dan tidak menyinggung dalam bahasa apapun. Baru kemudian, pada tahun 1999, kedua perusahaan tersebut bergabung dengan nama AstraZeneca dan memiliki kantor utama di Inggris.

Dengan begitu, Kominfo memberikan klasifikasi kabar ini sebagai sebuah disinformasi. Wah, wah, memang harus selalu hati-hari dan periksa ulang ya begitu menerima suatu kabar di era yang serba instan. Jangan sampai terpancing provokasi ya, detikers.



Simak Video "AstraZeneca CTMAV547 Disetop, Bagaimana Kelanjutan Dosis Keduanya?"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)