Tetap Sabar dan Tidak Terprovokasi Dugaan Menista Agama Paul Zhang

Kolom Telematika

Tetap Sabar dan Tidak Terprovokasi Dugaan Menista Agama Paul Zhang

Hariqo Wibawa Satria - detikInet
Minggu, 18 Apr 2021 12:17 WIB
Jozeph Paul Zhang (Screenshot YouTube)
Jozeph Paul Zhang. Foto: screenshot YouTube
Jakarta -

Jozeph Paul Zhang mendadak viral di media sosial usai diduga menista agama dan Nabi Muhammad SAW. Kini pihak kepolisian tengah memburu yang bersangkutan.

Berawal dari pernyataannya yang disampaikan dalam sebuah forum diskusi via Zoom yang juga ditayangkan di akun YouTube pribadinya, Paul Zhang membuka forum Zoom bertajuk 'Puasa Lalim Islam' dengan menyapa peserta yang ada di beberapa belahan dunia. Setelah menyapa para peserta, Jozeph Paul Zhang lalu memulai Zoom dengan membahas terkait 'puasa lalim Islam'

"Tema kita hari ini puasa lalim Islam. Luar biasa, lu yang puasa gua yang laper! Ha-ha-ha.... Gubrak gubrak. Password seperti biasa ya, buka jus jus jus gubrak gubrak gubrak olala bebe. Serius hari ini ya lu yang puasa gua yang laper, nggak bener lu," katanya.

Respons pengguna media sosial Indonesia antara lain mengecam, menyayangkan, melaporkan kepada Kepolisian, dan meminta yang bersangkutan ditangkap, dan lain-lain.

Pengguna media sosial yang muslim juga sabar, belum ada yang tersulut marah berlebihan. Meskipun suasana keagamaan karena Ramadan begitu kental, namun masyarakat tidak terprovokasi, ini sangat layak diapresiasi.

Respon terbaik untuk kasus ini adalah kalimat "dia nyari sensasi", "dia hanya ingin terkenal", dan lain-lain. Kita berharap tidak terjadi hal-hal yang merugikan, caranya antara lain:

Pertama, berita terkait dugaan penistaan agama oleh Paul Zhang ini perlu diviralkan. Berita yang diviralkan adalah berita yang disertai respons menyejukkan/menenangkan dari para pemuka agama, agar masyarakat memahami duduk perkara dan imbauan dari para pemuka agama.

Kedua, pengguna media sosial tidak memviralkan potongan video, mengapa? Karena reaksi setiap orang pasti berbeda-beda sesuai dengan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Ketiga, pengguna media sosial tidak memodifikasi, mengupload ulang video tersebut untuk memanaskan suasana, apalagi untuk menambah subscriber, jumlah penonton, jam tayang di media sosial, mengenalkan akun atau motif-motif ekonomi, popularitas lainnya.

Keempat, dalam berbagai webinar yang menggunakan aplikasi, waktu paling rawan adalah sebelum acara dimulai, atau saat menunggu peserta lengkap.

Sesi tidak formal seperti ini biasanya ada ngobrol-ngobrol santai, karena dianggap belum masuk sesi acara resmi, maka kemungkinan untuk berbicara tanpa kontrol bisa terjadi.

Kelima, tidak perlu mengaitkan peristiwa ini dengan latar belakang Jozeph Paul Zhang, baik suku, agama atau lainnya. Karena tidak ada ajaran agama manapun membolehkan menghina apalagi mengadu domba.

Keenam, meminta pihak media sosial untuk menutup akun Paul Zhang karena sudah melakukan pelanggaran yang membahayakan kepentingan nasional, kepentingan global yaitu perdamaian.

Hal ini juga sekaligus menjadi tantangan bagi polisi virtual. Kabar terakhir, yang bersangkutan sedang dicari keberadaannya oleh Polri. Mari terus berhati-hati. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan konten.


*) Hariqo Wibawa Satria adalah Direktur Eksekutif Komunikonten dan penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial.



Simak Video "Hasil Penelusuran Polri, Jozeph Paul Zhang Ada di Jerman!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)