7 Sisi Gelap di Balik Gemerlap Silicon Valley

7 Sisi Gelap di Balik Gemerlap Silicon Valley

Tim - detikInet
Senin, 12 Apr 2021 15:44 WIB
Lembah Silikon
Silicon Valley. Foto: dok. Thinkstock
Jakarta -

Silicon Valley atau Lembah Silikon di California, adalah pusatnya perusahaan teknologi mentereng, yang ingin ditiru Indonesia dengan Bukit Algoritma. Di sinilah berbagai macam teknologi yang mengubah dunia diciptakan. Google, Facebook, HP, Intel sampai Apple bermarkas di sana.

Namun tidak ada yang sempurna. Terdapat berbagai sisi negatif di balik gemerlap Silicon Valley. Berikut di antaranya seperti dikutip detikINET dari Insider, Senin (12/4/2021):

1. Harga rumah tidak masuk akal

Gaji tinggi para karyawan teknologi membuat harga rumah di sekitar Silicon Valley terus membumbung sampai tidak masuk akal. Bahkan belakangan, pegawai teknologi pun kesulitan membayarnya. Bayangkan saja, pada tahun 2018 harga rata-rata rumah di Silicon Valley adalah USD 1,2 juta, termahal di Amerika Serikat.

Hal itu membuat banyak orang tak mampu beli rumah. Bahkan ada cerita karyawan Google tinggal di parkiran kantor selama dua tahun. Namanya Pete D'Andrea dan dia tinggal di mobil karavan sehingga bisa hemat 80% pendapatan. Memang meski bergaji tinggi, harga sewa atau membeli hunian di sekitar Silicon Valley terlampau tinggi. Itu sebabnya ada karyawan seperti Pete yang memilih bermukim di karavan.

2. Transportasi publik buruk

Transportasi publik di area Silicon Valley terkenal buruk. Fasilitas kereta atau bus tidak bisa diandalkan sehingga orang-orang memilih naik mobil. Hal itu menyebabkan kemacetan panjang hampir terjadi setiap hari, terutama pada saat jam pergi dan pulang kerja.

"Fasilitas transportasi publik di sini begitu buruk. Kereta Bay Area Rapid Transit tidak melayani seluruh area. Jika kalian datang dari bandara dan ingin ke Silicon Valley, perlu berganti 4 kali transportasi publik dalam skenario terbaik," ucap seorang karyawan di sana.

3. Didominasi Ras Kulit Putih

Pegawai di perusahaan teknologi Silicon Valley memang berasal dari segala bangsa dan negara. Namun dinilai tetap saja ada terlalu banyak ras kulit putih, terutama di kalangan eksekutifnya. Hal itu kerap menjadi sasaran kritikan.

"Kurangnya diversitas adalah sangat ekstrem di Silicon Valley. Sangat sedikit investor atau entrepreneur yang mau mendiskusikan soal itu. Mereka bicara soal meritokrasi dan mungkin itu benar bagi yang bisa masuk komunitas ini. Tapi banyak orang tak punya akses," cetus Jeff Pilisuk, pengamat dari iEnso Consulting.

4. Kesulitan jika umur sudah tua

Persaingan di Silicon Valley super tinggi. Anak muda terpintar mencoba peruntungan di sini dengan tujuan membangun perusahaan atau bekerja di raksasa teknologi. Akibatnya jika umur sudah tua dan belum mencapai apa-apa, mereka berpotensi besar tersisihkan.

"Itu bukan karena orang yakin bahwa programmer berusia 40 tahun ke atas tidak kompeten, bukan seperti itu. Namun ada sistem usia yang sangat keras di sini. Orang tidak ingin bekerja dengan mereka yang tua, yang karirnya tidak bagus," sebut salah seorang karyawan di sana.

Halaman selanjutnya: Susah cari pasangan dan diskriminasi lainnya...