Paspor Vaksin Corona dan Teknologi di Baliknya

Masa Depan Vaksin Corona

Paspor Vaksin Corona dan Teknologi di Baliknya

Virgina Maulita Putri - detikInet
Minggu, 28 Mar 2021 16:36 WIB
Swedia dan Denmark Siapkan Paspor Digital Vaksinasi Covid-19
paspor Vaksin Corona dan Teknologi di Baliknya Foto: DW (News)
Jakarta -

Beberapa negara sudah mulai menggulirkan vaksin virus Corona secara luas. Untuk bisa bepergian ke luar negeri, traveller pun mungkin akan diharuskan menunjukkan telah menerima vaksin lewat paspor khusus.

Sebelum COVID-19, beberapa negara sudah mengharuskan pendatang untuk menyertakan bukti bahwa mereka telah menerima vaksin tertentu, misalnya demam kuning. Tapi paspor vaksin terbaru ini akan menggunakan sistem digital yang lebih efisien ketimbang sistem kertas seperti yang ada sekarang.

Saat ini ada beberapa perusahaan teknologi yang mulai mengembangkan aplikasi atau sistem ponsel khusus untuk merekam hasil tes dan vaksinasi COVID-19 pengguna.

Salah satu paspor vaksin yang sedang dikembangkan adalah CommonPass. Ini adalah proyek yang dikembangkan oleh organisasi nirlaba The Commons Project Foundation dan World Economic Forum yang berbasis di Jenewa, Swiss.

Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk menghubungkan hasil laboratorium dan catatan vaksinasi mereka. CEO The Commons Project Foundation Paul Meyer mengatakan sistem ini digunakan untuk mencegah penyalahgunaan.

Pengguna CommonPass nantinya akan mendapatkan QR code yang bisa ditunjukkan kepada maskapai sebelum terbang atau saat berada di imigrasi. Jika negara tujuannya menerima aplikasi sebagai bukti vaksinasi, mereka akan diperbolehkan untuk memasuki negara tersebut.

Saat ini pengembang CommonPass telah bermitra dengan bermitra dengan beberapa maskapai penerbangan termasuk Cathay Pacific, JetBlue, Lufthansa, Swiss Airlines, United Airlines dan Virgin Atlantic, serta ratusan sistem kesehatan di seluruh Amerika Serikat, seperti dikutip dari CNN Business, Minggu (28/3/2021).

Perusahaan teknologi lainnya yang ikut mengembangkan paspor vaksin adalah IBM. Sistem bernama IBM Digital Health Pass ini dibangun menggunakan IBM Blockchain dan bisa memverifikasi kredensial kesehatan pegawai, pelanggan atau pengunjung suatu tempat.

Teknologi ini tidak hanya bisa digunakan di bandar udara saat bepergian ke luar negeri, tapi juga kantor, arena olahraga sampai klub malam. Jika seseorang ingin mengunjungi festival musik, tempat kerja atau bandar udara, mereka cukup membuka aplikasi di ponsel yang berisi IBM Digital Health Pass.

Pengguna cukup menunjukkan QR code yang kemudian dipindai untuk melihat apakah kredensial kesehatan mereka sesuai dengan permintaan pemverifikasi, misalnya apakah mereka negatif COVID-19 atau sudah divaksinasi.

Sistem ini menggunakan dompet digital berbasis blockchain untuk menyimpan data kesehatan pengguna, termasuk catatan vaksinasi, hasil tes COVID-19 atau data lainnya. Karena tidak disimpan secara lokal di ponsel, data-data ini tidak akan bisa diotak-atik atau disalahgunakan oleh orang tidak bertanggung jawab.

Secara sederhana, paspor yang berbasis Digital Health Pass akan memberikan informasi sesuai apa yang diizinkan pengguna. Data yang ditampilkan pun hanya menunjukkan peringatan berwarna merah atau hijau untuk memverifikasi permintaan status COVID-19.

"Jika saya adalah sebuah tempat olahraga, contohnya, dan saya membutuhkan warga untuk memiliki: tes CIVID, tes antigen yang terbukti negatif dalam 48 jam terakhir, atau vaksin tahap dua, itu akan berubah jadi hijau," kata IBM blockchain partner Anthony Day, seperti dikutip dari ZDNet.

"Tidak ada data pribadi di titik ini yang kemudian dikembalikan ke pemverifikasi. Pemverifikasi hanya melihat seseorang menunjukkan QR code," imbuhnya.



Simak Video "Jepang Gunakan Paspor Vaksin untuk Perjalanan Internasional"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)