Akses Internet di Myanmar Kembali Diputus Junta Militer

Akses Internet di Myanmar Kembali Diputus Junta Militer

Panji Saputro - detikInet
Senin, 15 Mar 2021 18:23 WIB
Jumlah demonstran yang tewas ditembak dalam unjuk rasa antikudeta terbaru di Myanmar bertambah menjadi enam orang.
Akses internet di Myanmar kembali diputus (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Akses internet di Myanmar kembali diputus oleh Junta Militer, sejak kudeta yang terjadi pada 1 Februari 2021 lalu.

Ini ketiga kalinya mereka memutus akses internet di Myanmar sebagai upaya menutupi tindakan brutal setelah diberlakukannya darurat militer di Kota Hlang Tahyar, Yangon dan Swepyitha pada Minggu (14/3).

Disampaikan oleh Lynn Htet (22), salah satu warga Myanmar, pihak militer telah mematikan akses internet seluler dan wifi.

"Mereka sudah mematikan data seluler kami, mereka memutus koneksi internet wifi kami," ujar Lynn seperti diberitakan CNNIndonesia.com, Senin (15/3).

Junta militer juga membatasi layanan telekomunikasi dan internet untuk meredam pemberontakan. Sejak itu, hampir setiap malam, akses internet di beberapa wilayah di Myanmar mati.

Seperti yang disampaikan Lynn, bahwa junta militer selalu memutus sambungan internet mulai pukul 01.00 dini hari hingga 09.00 pagi. Namun hingga berita ini dibuat, dirinya menyampaikan akses internet di Myanmar masih belum dipulihkan.

"Kami hanya memiliki jaringan internet fiber yang tidak stabil, sebagian besar daerah pedesaan tidak memiliki internet fiber dan mereka hanya mengandalkan internet seluler," tambahnya.

Sebelum memutuskan akses internet, sehari sebelumnya aparat keamanan melakukan penyisiran terhadap pendukung Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dengan tujuan mencari pendukung Aung San Suu Kyi hingga ke kota kecil tempat tinggal Lynn di Irawaddy.

Ia menyampaikan polisi sering kali melakukan penyisiran terhadap warga yang menentang kudeta militer. Di hari yang sama, polisi melepaskan tembakan hingga menewaskan setidaknya empat orang di kota tempat tinggalnya.

"Kemarin malam, mereka baru saja menembak dan membunuh. Bisa saja ada penyisiran malam ini. (Penyisiran) itu tak bisa diprediksi dan mereka melakukannya ketika mereka mau," ujarnya.

"Tidak ada kata-kata untuk menggambarkan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kekejaman tidak manusiawi yang dilakukan Junta terhadap rakyat Myanmar. Tolong dukung rakyat Myanmar dan itu adalah aspirasi untuk demokrasi dan hak asasi manusia," imbuhnya.

Sudah lebih dari satu bulan lamanya, sejak kudeta, pemberontakan dan perlawanan rakyat sipil terhadap junta militer Myanmar terjadi dan hal ini terus meluas.

Parahnya, aparat pun semakin brutal dalam menangani para pendemo. Lembaga pemantau hak asasi manusia, Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), melaporkan sejauh ini setidaknya total 140 orang telah tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat.

"Saya merasa seperti kehilangan masa depan ketika mendengar berita pada 1 Februari. Saya merasa sangat kesakitan dan saya tidak ingin melupakan rasa sakit itu selamanya," kata seorang wanita berusia 23 tahun di sebuah ruang tamu di Yangon yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Reuters.



Simak Video "Momen Korban Luka Tembak di Myanmar Diangkut Pakai Motor"
[Gambas:Video 20detik]
(hps/fay)