Blunder Facebook Blokir Berita di Australia, Berujung Minta Maaf

Blunder Facebook Blokir Berita di Australia, Berujung Minta Maaf

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Minggu, 21 Feb 2021 07:49 WIB
Ilustrasi Facebook
Foto: Reuters
Jakarta -

Facebook nampaknya besar kepala dan kena batunya di Australia. Langkah mereka memblokir konten berita berujung kecaman, jadi blunder dan akhirnya minta maaf.

Desakan Pemerintah Australia agar Facebook membayar kepada media yang beritanya ditampilkan di Facebook, disambut negatif oleh perusahaan milik Mark Zuckerberg. Facebook menghilangkan semua berita dari timeline pengguna Facebook di Australia.

Langkah Facebook memblokir konten berita menjadi blunder. Pertama, PM Australia Scott Morisson marah besar. Kedua, berbagai media massa di Australia juga melawan balik. Dihilangkan oleh Facebook, siapa takut! Begitu suara media-media Australia dengan kompak.

Dilansir dari News.com Australia, Minggu (21/2/2021) Facebook sudah minta maaf. PM Australia Scott Morrison mengatakan Facebook sudah mau bernegosiasi usai aksi blokir berita yang menimbulkan kecaman.

"Aksi itu tidak patut, Kami menghargai permintaan maaf. Sekarang ayo diskusi dan menghasilkan kesimpulan yang bagus," kata Morrison.

VP Public Policy Facebook untuk Asia Pacific, Simon Milner mengatakan siap ikut langkah dari Pemerintah Australia. CEO Facebook Mark Zuckerberg sudah dihubungi Bendahara Negara Josh Frydenberg.

"Ini hal yang sangat sulit. Kami tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kami minta maaf untuk kesalahan yang kami buat," kata Milner.

Sebelumnya, Ketua Public Interest Jurnalism di Australia, Allan Fells mengatakan Facebook bisa menghadapi gugatan hukum atas langkahnya memblokir berita untuk pengguna di Australia. Diserang dari kanan kiri, Facebook pun goyah.

"Kalau Facebook mau mengabaikan berita dan fakta-fakta Australia, maka ini waktunya orang Australia mengabaikan Facebook. Negeri kita indah, ayo buka mata dan lihat sekeliling," kata Joe Hildebrand, editor News.com Australia.

Bahkan media ini memasang pengumuman, agar pengguna mendownload aplikasi dan tidak mencari berita dari Facebook.

"Anda tidak butuh Facebook untuk mendapatkan berita. Sign up aplikasi kami untuk berita terkini yang terjadi," demikian pengumuman mereka.

Langkah kompak dan berani pemerintah dan masyarakat Australia terhadap Facebook, mungkin bisa jadi inspirasi bagi negara-negara lain termasuk Indonesia. Dominasi dan monopoli raksasa teknologi, pada kenyataannya bisa dilawan.



Simak Video "Facebook Uji Coba Aplikasi 'Sparked' Buat Kencan Online"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/afr)