Donald Trump Diblokir Twitter, Misinformasi Langsung Turun Drastis

Donald Trump Diblokir Twitter, Misinformasi Langsung Turun Drastis

Virgina Maulita Putri - detikInet
Senin, 18 Jan 2021 07:30 WIB
Twitter Donald Trump
Donald Trump Diblokir Twitter, Misinformasi Langsung Turun Drastis Foto: istimewa
Jakarta -

Setelah kerusuhan di Gedung Capitol AS pada 6 Januari lalu, Presiden Donald Trump diblokir oleh sejumlah platform media sosial, termasuk Twitter, Facebook dan Snapchat. Setelah Trump dicekal, jumlah misinformasi tentang klaim kecurangan di pilpres AS turun drastis.

Berdasarkan temuan perusahaan analitik Zignal Labs, percakapan tentang kecurangan pilpres AS turun dari 2,5 juta mention menjadi 688.000 mention di beberapa media sosial satu minggu setelah akun Twitter Trump diblokir.

Dikutip dari Washington Post, Senin (18/1/2021) studi Zignal Labs meliputi periode dari 9 Januari, sehari setelah Trump dicekal oleh Twitter, sampai 15 Januari.

Zignal Labs juga menemukan penggunaan tagar yang terkait dengan kerusuhan di Gedung Capitol AS menurun. Tagar #FightforTrump yang banyak digunakan di Facebook, Instagram, Twitter dan media sosial lainnya seminggu sebelum kerusuhan, turun hingga 95%.

Begitu juga dengan tagar #HoldtheLine dan kata kunci 'March for Trump' yang penggunaannya turun 95%.

Peneliti menemukan cuitan Trump langsung di-retweet oleh pengikutnya dengan kecepatan yang luar biasa, apapun subjeknya. Ia pun jadi memiliki kemampuan yang tidak tertandingi untuk membentuk percakapan di media sosial.

"Intinya adalah de-platforming, terutama pada skala yang terjadi minggu lalu, membatasi momentum dan kemampuan untuk menjangkau audiens baru dengan cepat," kata Director of Digital Forensic Research Lab Graham Brookie.

"Meskipun demikian, ini juga memiliki tendensi untuk memperkuat pandangan mereka yang sudah terlibat dalam penyebaran informasi palsu semacam itu," sambungnya.

Pemblokiran akun Trump bukan satu-satunya penyebab menurunnya jumlah misinformasi online. Tidak lama setelah akun Trump ditangguhkan, Twitter juga menghapus 70.000 akun yang terkait dengan teori konspirasi QAnon yang memegang peran penting dalam kerusuhan 6 Januari.

"Bersama-sama, tindakan tersebut kemungkinan akan menurunkan jumlah misinformasi online secara signifikan dalam jangka pendek. Apa yang terjadi dalam jangka panjang masih belum jelas," kata peneliti di University of Washington Kate Starbird.

Twitter bukan satu-satunya platform media sosial yang mencekal Trump. Facebook, Instagram, Twitch, Spotify, YouTube dan lain-lain juga memblokir akun Trump dan pendukungnya serta memberantas konten yang dianggap mendorong kekerasan.

Setelah kehilangan tempat di media sosial, Trump dikabarkan mencari rumah baru di media sosial konservatif seperti Parler atau Gab. Tapi Parler justru dihapus oleh Apple dan Google dari toko aplikasinya karena tidak memoderasi konten yang mempromosikan kekerasany.



Simak Video "Tak Ada Jalan Bagi Donald Trump untuk Kembali Lagi ke Twitter"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/afr)