Bos Signal Hartanya Rp 35 Triliun Berkat WhatsApp

Bos Signal Hartanya Rp 35 Triliun Berkat WhatsApp

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 13 Jan 2021 22:35 WIB
Brian Acton
Brian Acton. Foto: Business Insider
Jakarta -

Pada waktu WhatsApp dibeli Facebook di tahun 2014 senilai sekitar USD 19 miliar, kedua pendirinya ketiban untung besar sebagai pemegang saham. Salah satunya Brian Acton, Executive Chairman Signal Foundation, yang saat ini menurut Forbes kekayaannya di kisaran USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 35,2 triliun.

Ya, harta itu ia dapat berkat inovasi membuat WhatsApp bersama rekannya, Brian Acton. Awalnya bergabung dengan Facebook, Acton resign pada tahun 2017 yang diikuti oleh Koum sekitar setahun kemudian.

Mengenai alasan ia keluar, Acton mengaku kecewa karena perusahaan semacam Facebook menurutnya mengorbankan privasi user demi mendulang untung. Tapi dia mengakui dulu membiarkan WhatsApp dibeli Facebook agar pegawai WhatsApp lebih makmur.

"Aku punya 50 pegawai dan aku harus memikirkan mereka dan uang yang akan didapatkan dari penjualan itu. Aku harus berpikir tentang para investor dan saham minoritasku. Aku tak punya kuasa penuh untuk mengatakan tidak jika aku mau begitu," papar Acton.

Facebook tentu menargetkan WhatsApp untung besar, salah satu yang ditentang Acton. Dulu, WhatsApp punya model monetisasi di mana user membayar USD 1 untuk memakai layanan tiap tahun, tapi bagi Facebook sepertinya uang yang dihasilkan belum cukup.

"Itu bukan cara menghasilkan uang yang luar biasa. Jika kalian punya 1 miliar user, pendapatannya USD 1 miliar per tahun. Itu bukanlah yang diinginkan oleh Google dan Facebook. Mereka ingin bermiliar-miliar dolar," tandasnya.

"Motif untuk profit kapitalis atau menjawab Wall Street, itulah yang mendorong invasi data pribadi dan banyak muncul hal negatif yang tidak kita senangi," tambah Acton.

Jadilah ia keluar dan bergabung ke Signal. Tak sekadar gabung, Acton mengucuri dana USD 50 juta pada Signal agar layanan messaging ini cepat melesat. Ia didapuk menjadi Executive Chairman di Signal Foundation.

Sekadar catatan, WhatsApp menggunakan protokol open source milik Signal untuk melakukan enkripsi end to end sehingga pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerimanya.

Halaman selanjutnya: Sepak terjang Acton besarkan Signal...