80% Penjual di Tokopedia Dapatkan Order Pertama dari Fitur TopAds

80% Penjual di Tokopedia Dapatkan Order Pertama dari Fitur TopAds

Faidah Umu Sofuroh - detikInet
Minggu, 20 Des 2020 19:53 WIB
Tokopedia
Foto: Tokopedia
Jakarta -

Perkembangan teknologi yang sangat pesat membantu masyarakat dalam menjalani kehidupan. Seperti hadirnya e-commerce yang sangat memudahkan semua orang untuk berbelanja online. Peluang ini bisa dimanfaatkan para pengusaha untuk melebarkan sayapnya ke ranah digital.

Salah satu perusahaan teknologi Indonesia Tokopedia juga memaksimalkan teknologi berupa fitur TopAds untuk mengoptimalkan penjualan para pengusaha. Dengan fitur ini, pengguna akan mendapatkan rekomendasi produk yang kurang lebih sesuai dengan barang yang sedang dicari. Data Analyst Tokopedia Erika Hutapea mengatakan Tokopedia menggunakan fitur TopAds ini melalui pemanfaatan big data.

TopAds adalah fitur Tokopedia yang dapat digunakan untuk memaksimalkan penjualan dengan menampilkan produk yang dijual tampil pada peringkat teratas. Menurutnya, data analyst berperan mengatur produk apa saja yang menarik perhatian pembeli, serta memastikan setiap penjual memiliki kesempatan yang sama untuk terekspos ke lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan Tokopedia.

"Seorang data analyst adalah seorang konsultan. Kami bertugas memberikan informasi kepada penjual mengenai keyword yang sedang menjadi tren sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendorong penjualan mereka," ucap Erika dalam keterangannya, Minggu (20/12/2020).

Lewat TopAds, lanjutnya, penjual bisa mengaktifkan fitur Iklan Otomatis. Sehingga, penjual tidak perlu repot untuk mengatur iklan. Penjual cukup memasukkan bujet dan periode iklan, dan iklan mereka bisa langsung aktif.

"Menurut data internal kami, 80% penjual baru mendapatkan order pertama mereka dari TopAds," ujarnya.

Ia menambahkan peran big data di sini menyuguhkan data yang biasanya terdiri dari user behavior, harga, hingga tren produk yang sedang diincar konsumen. Jadi, penjual akan dimudahkan untuk menentukan hal apa saja yang perlu dipromosikan sesuai bujet yang dimiliki.

TopAds memang menjadi fitur yang ditujukan kepada para penjual agar mereka dapat mempromosikan produk tepat sasaran, serta meningkatkan eksposur terhadap produk jualan dan toko. Biayanya terbilang terjangkau, mulai dari Rp 250, Rp 300, dan Rp 350 tergantung kategori produk yang dijual.

"Semakin banyak data, semakin banyak yang bisa dilihat, tapi dari sisi olahan big data itu sendiri, kita harus tahu objektif apa yang mau dilihat, karena tidak semua hal harus atau perlu kita lihat. Dengan semakin banyaknya penjual dan pembeli di Tokopedia, kita harus memastikan bahwa penjual bisa memperoleh insight yang diperlukan untuk penjualan mereka dan pembeli pun bisa menemukan apa yang mereka butuhkan di Tokopedia," jelas Erika.

Di masa pandemi seperti sekarang, banyak UMKM yang bermigrasi ke ranah digital. Big data akan menyediakan wawasan tentang konsumen, tren pasar, dan rekomendasi promosi.

"Kami membantu agar UMKM ini mendapat kesempatan yang sama, bisa berupa flash sale, iklan, dan program lain untuk meningkatkan penjualan dan menarik minat konsumen. Peran kami menciptakan leveling untuk penjual sejak baru berjualan (newbie) maupun penjual lama (mature)," jelasnya.

Sementara untuk masa pandemi yang serba fluktuatif dari segi data, Erika mengaku hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi timnya agar tetap bisa memberikan insight relevan tentang apa yang sedang dicari oleh konsumen dan perubahan seperti apa yang harus dilakukan agar terus mempertahankan penjualan.

Misalnya, produk kesehatan mendadak menjadi kategori produk yang banyak diincar orang, perubahan model penjualan di kategori Makanan & Minuman yang tiba-tiba harus mengubah kemasan jadi bentuk frozen atau siap delivery, hingga pivot kategori fesyen yang turut menyediakan produk masker.

"Perubahan konstan seperti ini yang menjadi tantangan tersendiri, namun sangat menarik untuk dikulik dan dibagikan kepada penjual agar bisnis mereka tetap bisa berkembang. Selain itu, yang seru sebenarnya adalah bagaimana kami mengolah dan menampilkan data yang 'njelimet' menjadi sebuah cerita (storytelling) dan menghasilkan dampak bagi penjual dan pembeli lewat pengembangan fitur pada produk. Ada kepuasan tersendiri di sana," pungkasnya.

(ega/ega)