89% Gen Y dan Z Cari Berita dari Instagram, 77% dari YouTube

89% Gen Y dan Z Cari Berita dari Instagram, 77% dari YouTube

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Rabu, 16 Des 2020 12:07 WIB
Vintage toned image of two young, Asian women, walking together, chatting, near Siam station on Bangkok Sukhumvit line. They’re wearing casual street style clothing, enjoying an afternoon together, texting on their cellphones.
Gen Y dan Z cari berita lewat Instagram dan YouTube (Foto: Getty Images/lechatnoir)
Jakarta -

Beda generasi, beda pula gayanya dalam mengonsumsi berita. Ternyata, hampir semua generasi millenial Z mencari berita dari Instagram dan YouTube.

Hal itu terungkap dalam survei Maverick Indonesia tentang pola konsumsi berita untuk generasi muda. Survei dilakukan pada 453 responsen berusia 18-32 tahun di Jabodetabek dan Bandung.

Dari survei ini terungkap bahwa Instagram menjadi sumber informasi untuk 89% responden. Sedangkan YouTube jadi sumber berita untuk 77% responden. Sementara itu 54% responden memakai news aggregator LINE Today, khususnya anak muda di bawah 23 tahun.

"Kami melakukan riset ini pada September-Oktober lalu untuk tahu pola konsumsi berita Generasi Y dan Z. Generasi muda akan menjadi konsumen utama di masa depan," kata Direktur Monitoring and Analytics Maverick Indonesia Felicia Nugroho dalam diskusi virtual, Selasa (15/12/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Manager Analytics Maverick Indonesia Karen Kusnadi mengatakan gaya swipe up dari Instagram dan feed caption pada YouTube menjadi pola-pola yang disukai. Selain itu kredibilitas dan kecepatan berita menjadi pertimbangan generasi Y dan Z memilih portal berita mainstream.

"Tapi ada perubahan ekosistem informasi untuk Generasi Y-Z, karena mereka mencari berita dari media sosial," kata Karen.

Karen mengatakan Generasi Y dan Z harus dipahami bahwa mereka hidup dalam gelembung informasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Publisher apapun dalam membuat konten harus memahami mereka, membuat konten yang relevan, lalu diamplifikasi dengan media sosial.

"Mereka suka yang formatnya pendek dan banyak visual. Untuk konten yang panjang atau indepth, selama gaya bahasanya bisa menyesuaikan, ada visual dan video, audiens tetap akan baca itu," kata Karen.

Karen juga mengatakan TV kini beralih menjadi sumber hiburan, tapi bukan sumber berita. Sementara Podcast dan TikTok akan menjadi platform yang menjanjikan di masa depan, namun keduanya masih mencari bentuk konten berita yang sesuai.

"Generasi Y dan Z itu juga lebih kritis karena mereka dapat informasi dari berbagai perspektif. Beda dengan generasi X dan Baby Boomer yang hidup dalam informasi tunggal sehingga paling gampang terkena hoax," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Head of PR Xiaomi Technology Indonesia, Stephanie Cicilia mengatakan Generasi Y dan Z menciptakan tren dan sekaligus mengikuti tren yang diciptakan pihak lain. Ditambah lagi, masa New Normal mengubah perilaku konsumen.

"Bikin konten harus menarget audiens sesuai dengan platformnya. Kalau pakai TikTok artinya audiens belasan tahun, tapi kalau umurnya dia atas itu ya pakai platform lain," sarannya.



Simak Video "Penjelasan Instagram di Balik Seringnya Gangguan Server"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/fay)