Wacana Sekolah Tatap Muka, Apa Platform Digital Masih Digunakan?

Wacana Sekolah Tatap Muka, Apa Platform Digital Masih Digunakan?

Virgina Maulita Putri - detikInet
Selasa, 24 Nov 2020 17:11 WIB
Siswa di lereng Gunung Merapi tetap belajar di sekolah meski status gunung itu kini siaga. KBM tatap muka di sekolah itu hanya dilakukan 2 hari selama 1 minggu.
Wacana Sekolah Tatap Muka, Apa Platform Digital Masih Digunakan? (Foto: Agung Mardika/detikcom)
Jakarta -

Beberapa provinsi di Indonesia mulai mengkaji wacana kembalinya sekolah tatap muka di tengah pandemi COVID-19. Lalu apakah platform digital yang selama ini dipakai saat belajar online masih akan digunakan?

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI) Muhammad Ramli Rahim mengatakan penggunaan platform digital di kalangan pengajar sebenarnya sudah dilakukan bahkan sebelum pandemi, baik untuk belajar online atau membuat materi dalam bentuk video.

Menurutnya begitu kegiatan sekolah tatap muka kembali diadakan, platform digital masih akan dimanfaatkan karena proses belajar belajar offline belum berjalan maksimal.

"Jadi masuk tatap muka itu pun belum bisa 100% dalam bulan Januari, Februari, Maret kecuali kalau vaksin COVID-19 ini sudah bisa ditemukan dan bisa dipastikan aman untuk digunakan," kata Ramli dalam media briefing virtual, Selasa (24/11/2020).

Survei yang dilakukan Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan Wahana Visi Indonesia menemukan 95% responden setuju untuk melakukan belajar online atau kombinasi jika pemerintah pusat memberikan kebebasan untuk membuka kembali sekolah.

Ramli mengatakan pandemi justru mendorong percepatan penggunaan platform digital di kalangan guru. Tidak hanya berguna untuk belajar online, platform seperti TikTok juga membantu guru menciptakan konten edukasi yang kreatif dan menarik.

Menurut Ramli, sebaik-baiknya materi yang diberikan guru dan kurikulumnya, akan sia-sia jika metodologi penyampaiannya tidak kreatif dan maksimal. Untuk itu IGI dan JSDI bekerjasama dengan TikTok untuk memberikan workshop pemanfaatan platform digital kepada 1.000 guru di Indonesia.

"Memang kita juga yakin sepenuhnya teknologi tidak bisa menggantikan guru. Itu keyakinan kita bersama, tapi kita juga sangat yakin guru-guru yang tidak memahami teknologi akan ditinggalkan oleh guru-guru yang memahami teknologi," jelas Ramli.

Head of User and Content Operations TikTok Indonesia Angga Anugrah Putra dalam kesempatan yang sama mengatakan popularitas konten edukasi di TikTok terus meningkat. Tapi dengan pelatihan ini TikTok tidak ingin menggantikan proses belajar mengajar formal.

"TikTok ini tidak mencoba menggantikan kegiatan belajar mengajar formal tapi ini bisa jadi suplemen. Dan kalau berbicara Sama-Sama Belajar, ini juga bukan hanya formal education tapi banyak juga yang share soal skill based content," kata Angga.



Simak Video "Zona Merah Kian Parah, Rencana Sekolah Tatap Muka Pun Tertunda"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)