Hasil Penelitian, Teknologi Plasmacluster Mampu Lumpuhkan Virus

Hasil Penelitian, Teknologi Plasmacluster Mampu Lumpuhkan Virus

Angga Laraspati - detikInet
Selasa, 22 Sep 2020 16:50 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sharp Electronics dengan 2 universitas di Jepang yaitu Nagasaki University dan Shimane University menemukan teknologi Plasmacluster mampu untuk melumpuhkan virus baru. Penelitian yang dilakukan sejak bulan April ini menemukan jumlah virus yang tersuspensi di udara berkurang hingga 91,3% dengan menggunakan teknologi Plasmacluster.

General Manager of Global Plasmacluster Equipment Planning Sharp Corp Hiromasa Okajima mengatakan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh 3 orang profesor asal Jepang yaitu Profesor Yasuda, Profesor Nambo dari Nagasaki University dan Profesor Yoshiyama dari Shimane University menemukan virus corona baru atau COVID-19 masuk ke dalam jenis envelope virus dan memiliki lapisan eksternal yang terbuat dari lemak dan protein.

"Oleh karena itu dengan menggunakan sabun, deterjen, maupun alkohol dia dapat dengan mudah dinonaktifkan, karena dia adalah lemak. Jadi dengan rajin mencuci tangan atau mengelap permukaan virus yang menempel bisa di netralisir," ujar Okajima saat acara 'SHARP Plasmacluster Webinar 2020' yang digelar secara online, Selasa (22/9/2020).

Lebih lanjut, Okajima menuturkan dari protein-protein yang ada di suatu virus, ada protein menonjol yang dinamakan spike protein. Spike protein ini mempunyai peran yang besar dalam penyebaran dan penularan suatu virus.

Berbeda dari bakteri yang bisa berkembang biak secara sendiri, virus menggunakan spike protein untuk meminjam sel makhluk hidup lain, dan spike protein adalah dalang dari penularannya. Spike protein akan menyatu dengan reseptor pada sel tubuh manusia, khusus untuk COVID-19, virus akan menyerang reseptor enzim pengubah angiotensin atau ACE II.

Lalu apa gunanya Plasmacluster? Plasmacluster berguna untuk menghancurkan spike protein yang tersebar di udara dengan cara menegatifkan atau menonaktifkan virus. Sama seperti vaksin yang saat ini sedang dikembangkan, yang menjadi sasarannya adalah spike protein dari virus COVID-19 tersebut.

Adapun, Sharp terus mencari cara untuk meminimalisir penyebaran virus yang mengendap di udara, salah satunya dengan menggunakan teknologi Plasmacluster yang sudah diuji coba sejak tahun 2004 mengatasi berbagai virus.

"Untuk kelompok virus corona pernah diujicobakan pada tahun 2004 ke virus yang menjangkit kucing dan di tahun 2005 terhadap Coronavirus SARS," ungkap Okajima.

Uji coba yang dilakukan kali ini dilakukan dengan cara menyemprotkan cairan yang berisi virus yang berukuran 2 mikron ke dalam sebuah box yang di dalamnya terdapat plasmacluster, kemudian cairan tersebut dikumpulkan kembali di dalam suatu wadah.

"Setelah ditangkap kemudian di tes kembali, dan diukur seberapa banyak virus yang ada dengan menggunakan metode plaque assay. Jadi virus dikembangbiakan di dalam sebuah media, hasilnya adalah jumlah virus yang menular tanpa plasmacluster itu ada 17.600 sedangkan yang menggunakan plasmacluster jumlah virus tersisa hanya 1.530 jadi plasmacluster ini efektif mengurangi virus hingga 91,3%," jelas Okajima.

Adapun, virus dan bakteri dengan teknologi plasmacluster dinonaktifkan dengan menghancurkan lemak virus COVID-19 dengan ION H dan O yaitu plus dan minus sehingga tidak akan membahayakan manusia lagi.

"Itu dari penelitian kami di berbagai universitas dan laboratorium selama ini. Jadi sekali dinonaktifkan virus tidak bisa aktif kembali," pungkas Okajima.

Sebagai informasi, teknologi Plasmacluster tersebut juga sudah dapat ditemui di berbagai produk Sharp di antaranya Air Conditioner, Air Purifier, Refrigerator, dan juga ION Generator.



Simak Video "Ini Sebaran Kasus Positif Corona di 34 Provinsi Hari Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/fay)