48% Warga Jabodetabek Pakai Ojek Online untuk Akses Transportasi Publik

48% Warga Jabodetabek Pakai Ojek Online untuk Akses Transportasi Publik

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 31 Agu 2020 19:56 WIB
Jawa Barat bersiap menerapkan fase kenormalan baru. Protokol ini akan diterapkan di transportasi publik. Begini kondisi di gerbong KRL jelang new normal.
Ilustrasi KRL (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Ketergantungan kaum komuter di Jabodetabek terhadap 'transportasi online' semakin terlihat lewat penelitian yang dilakukan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB).

Dalam penelitian berjudul "Peran Transportasi Daring dalam Penggunaan Transportasi Massal: Gagasan Integrasi Antar Moda dalam Periode Adaptasi Kebiasaan Baru", mereka coba menggali sejauh mana integrasi transportasi antar moda di Jabodetabek bisa memberikan pilihan untuk para penggunanya.

Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam diskusi publik dengan Kementerian Perhubungan RI, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Dinas Perhubungan DKI Jakarta, TransJakarta pada akhir Juli lalu. Diskusi ini juga mengundang Grab Indonesia sebagai penyedia ride-hailing, atau yang lebih populer disebut 'transportasi online'.

Penelitian yang dipimpin Associate Professor SBM ITB Yos Sunitiyoso ini mengeksplorasi pengalaman transportasi multimoda harian dan opini dari 5.064 komuter yang diadakan pada bulan Desember 2019 - Maret 2020.

Penelitian ini menemukan bahwa 48% komuter menggunakan layanan ride-hailing sebagai salah satu moda transportasi dalam perjalanan multi moda harian mereka.

Ride-hailing menjadi moda transportasi first-mile (mil pertama, artinya dari rumah ke titik transportasi publik) dan last-mile (mil terakhir, dari titik terakhir transportasi publik ke rumah). Kemudahan dan kenyamanan ini telah mendorong semakin banyak anggota masyarakat memiliki transportasi publik.

Hasil penelitian ini pun dikomentari oleh Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, yang menggarisbawahi kata ekosistem sebagai kata kunci dalam pengembangan transportasi publik ke depan, yang menurutnya diperlukan komitmen dari semua pihak untuk menciptakan ekosistem transportasi publik yang terintegrasi.

"Semua pihak harus terus berdialog terbuka. Pengambil kebijakan, operator transportasi publik, dan operator penyedia ride-hailing harus berkolaborasi menghadapi situasi adaptasi kebiasaan baru ini," kata Heru menanggapi hasil penelitian ini.

Lebih jauh, Heru menjelaskan bahwa pembangunan ekosistem tersebut telah dapat difasilitasi oleh teknologi digital. Inilah yang membuat peran ride-hailing atau transportasi online semakin penting dalam ekosistem transportasi publik.

Heru melihat besarnya kontribusi Grab dalam pembangunan ekosistem transportasi publik terintegrasi di DKI Jakarta. Beberapa contoh yang diambil Heru meliputi Grab Pick Up Point, GrabShelter, dan GrabProtect. Itu semua merupakan solusi yang relevan dalam periode adaptasi kebiasaan baru di DKI Jakarta.

"Kita lihat, 73 persen komuter yang menggunakan ride-hailing memilih Grab. Ini tentu karena Grab bisa menyediakan solusi baik bagi konsumen maupun pemerintah. Solusi itu dapat berupa kenyamanan pemesanan karena teknologi yang lebih baik dan fitur keamanan dan keselamatan yang unggul," ujarnya.

Agung Wicaksono dari Center for Policy and Public Management SBM ITB yang bertindak sebagai moderator menyimpulkan, "Dari penelitian tim SBM ITB ini dan diskusi hari ini, terlihat nyata bahwa transportasi publik bukanlah soal kompetisi, melainkan soal kolaborasi. Kolaborasi yang bukan hanya mengedepankan aspek bisnis, namun juga pelayanan kepada masyarakat karena kebijakan transportasi memiliki aspek sosial ekonomi," tutup Agung.

Kalau detikers bagaimana? Apa alasan kalian memakai ride-hailing setiap hari? Coba sampaikan opini kamu di kolom komentar.



Simak Video "Lengkapnya Kemudahan Transaksi yang Ditawarkan Grab"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)