Netizen Muda Risih Sama Chat yang Pakai Tanda Baca Ini

Netizen Muda Risih Sama Chat yang Pakai Tanda Baca Ini

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 29 Agu 2020 11:33 WIB
Portrait surprised young girl from message on smartphone in brightly yellow sweater, isolate on a violet background
Sejumlah tanda baca kurang disukai netizen muda saat berkirim pesan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Anatoliy Sizov
Jakarta -

Seperti apa gaya berkomunikasi kalian secara digital lewat chat atau email? Apapun itu, mungkin kalian setuju dengan fakta menarik tentang tanda baca yang satu ini.

Netizen yang lebih tua mungkin menganggap tanda titik sangat penting untuk menandai akhir kalimat. Tapi generasi digital native yang lebih muda, menganggap tanda titik di akhir kalimat tidak penting dan malah membuat risih.

Dikutip dari New York Post, perbincangan terkait tanda baca muncul di media sosial baru-baru ini. Para digital native seperti Gen Z dan milenial menganggap bahwa mengakhiri kalimat dengan tanda titik sangat tidak keren, bahkan terkesan tidak ramah.

"Cuma orang-orang tua atau bermasalah yang menaruh titik di akhir kalimat," kata Victoria Turk dalam bukunya mengenai etiket digital berjudul 'Kill Reply All.'

Generasi yang lebih muda, menganggap bahwa mengirim chat atau teks berarti mengirimkan isi pikiran dengan lengkap, sehingga tanda titik dirasa tidak perlu dan terkesan terlalu final.

"Dalam percakapan pesan instant, tanda titik tidak diperlukan. Jika sudah menyampaikan pemikiran kalian, apa fungsi tanda titik? Akibatnya, menggunakan titik dalam pesan instant jadi terlihat tegas, dan dapat berkesan seolah-olah kalian galak atau sedang kesal," kata Turk lagi.

Dia mencontohkan, perbedaan nada pesan yang ditulis dengan 'Lucu banget' (tanpa titik) dengan 'Lucu banget.' (dengan titik) sekilas mungkin biasa saja. Tapi kalimat terakhir (yang pakai titik) akan dirasa sebagian pengguna pesan instant terkesan tidak menyenangkan dan tidak perlu.

Selain itu, media sosial menambah sentimen ini gara-gara tulisan kolumnis Guardian, Rhiannon Lucy Cosslett.

"Hai orang-orang yang lebih tua, kalian sadar tidak sih kalau mengakhiri kalimat dengan tanda titik di chat atau email dianggap tidak ramah oleh anak muda?," tulisnya.

Terlepas dari pernyataan ini memunculkan pro dan kontra terkait usia, argumen Cosslett ternyata ada benarnya. Dalam sebuah studi di 2015 terhadap 126 mahasiswa, para peneliti di Binghamton University menemukan bahwa chat yang diakhiri dengan titik dianggap tidak tulus.

"Pesan digital punya kekurangan tidak adanya isyarat sosial seperti jika bertemu langsung. Orang dengan mudah menyampaikan informasi lewat tatapan mata, ekspresi wajah, nada suara, jeda, dan sebagainya," kata ketua penelitian Celia Klin.

"Kita jelas tidak dapat menggunakan cara ini saat berkirim chat atau pesan. Oleh karena itu, masuk akal jika pengirim teks mengandalkan apa yang tersedia bagi mereka, mulai dari emoticon, kesalahan ejaan yang disengaja untuk meniru suara ucapan, dan tentunya tanda baca," sambungnya.

Klin punya pendapat lain mengenai interpretasi baru tanda titik yang digunakan dengan sengaja, yakni untuk efek pesan bernada komedi, atau penekanan.

"Tanda titik dapat ditempatkan dengan sengaja untuk menambahkan penekanan, termasuk memberi titik yang diperlukan di antara setiap kata," simpulnya.



Simak Video "Apresiasi TNI untuk 'Asap Digital' Jambi Demi Cegah Karhutla"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)