Kasus Video Prank Bagi Daging Kurban, Kok Nggak Kapok?

Kasus Video Prank Bagi Daging Kurban, Kok Nggak Kapok?

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 04 Agu 2020 15:14 WIB
prank daging kurban isi sampah
Kasus Video Prank Bagi Daging Kurban, Kok Nggak Kapok? Foto: YouTube Edo Putra
Jakarta -

Perbuatan tidak terpuji lewat video prank kembali terjadi. Kali ini seseorang bernama Edo Putra membuat publik geram dengan video prank daging kurban isi sampah. Sudah banyak kasus serupa, kok nggak kapok?

Pengamat media sosial Enda Nasution menyebutkan, prank atau lelucon mengerjai orang sejak dulu ada. Bedanya dengan sekarang, hal semacam ini masuk ke ranah digital sehingga bisa menjadi sebuah konten.

"Ketika ngomongin konten, reaksinya akan ada orang yang kesal. Termasuk yang kontroversial, ada yang pro ada yang kontra. Ketika audience semakin banyak, akan menghasilkan views. Dan views ini bisa menghasilkan keuntungan bagi si pembuat konten," kata Enda dihubungi detikINET, Selasa (4/8/2020).

Menurut Enda, ada motif ekonomi di balik video prank, dan mereka mendapat ide dari para YouTuber yang sudah ngetop. Hanya saja, mereka malas memikirkan konten yang akan dibuat dan yang mereka lakukan adalah menggunakan jalan pintas.

"Mereka lihat YouTuber yang sudah terkenal kok kayanya gampang dapat puluhan bahkan ratusan juta. Padahal bikin konten kan gak mudah. Nah, salah satu yang mudah apa? Bikin prank ini," komentar Enda.

Tapi Enda optimistis di luar sana sebenarnya ada lebih banyak konten positif. Hanya saja, sebagian kecil orang yang membuat prank tidak terpuji atau konten kontroversial lebih banyak dibicarakan orang sehingga konten yang bagus dan bermanfaat seolah tenggelam.

"Saya gak bilang orang-orang harus bikin konten seperti pendidikan atau apa yang harus positif, mendidik, dan sebagainya. Contohnya ada video orang diam saja gak ngapa-ngapain juga kan menghibur orang. Apa saja, terserah asal tidak melanggar norma dan aturan yang ada," sebut aktivis digital ini.

Menurutnya, konten semacam ini hanya bisa dihentikan jika YouTube selaku pemilik platform melarang semua konten jenis prank. Tapi hal ini tidak mungkin.

"Masa YouTube mau jadi polisi moral? Prank juga kan ada yang menghibur dan tidak kontroversial. Karena itu, maksimalkan saja peran kita sebagai masyarakat dan komunitas pengguna yang bisa melaporkan agar sebuah konten bisa di-take down," ujarnya.

Dia juga mengingatkan kepada para konten kreator bahwa mereka harus tahu konsekuensi yang didapat dari konten yang dibuatnya, bukan sekadar memikirkan bagaimana menghasilkan uang dari jumlah views yang didapat.


"Ada banyak kesempatan membuat konten yang jauh lebih baik, lebih menghibur, dan bermanfaat. Kuncinya jangan pakai jalan pintas buat sekadar ngetop dan cari keuntungan," pesannya.



Simak Video "Edo Youtuber Prank Daging Kurban Isi Sampah Ngaku Menyesal"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)