Sistem Komisi App Store Dikritik, Ini Pembelaan Apple

Sistem Komisi App Store Dikritik, Ini Pembelaan Apple

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 24 Jul 2020 09:00 WIB
Apple App Store
Foto: internet
Jakarta -

Apple merilis sebuah laporan untuk membela sistem komisi App Store yang banyak dikritik. Dalam menggarap laporan tersebut Apple menggaet sejumlah ekonom untuk meneliti sistem komisi mereka.

Para ekonom itu berasal dari Analysis Group, yang menyebut bahwa Apple menerapkan komisi atau pajak sebesar 30% yang ditetapkan Apple untuk penjualan aplikasi dan pembelian in-app, demikian dikutip detikINET dari Digital Trends, Jumat (24/7/2020).

Menurut para ekonom, potongan 30% itu sama dengan 38 marketplace digital lain seperti Google Play Store, Amazon Appstore, dan Samsung Galaxy Store. Begitu juga dengan marketplace game milik Xbox, PlayStation, dan Nintendo.

Potongan sebesar 30% tersebut, menurut para ekonom, terbilang angka yang normal, bahkan sebelum App Store ada. Contohnya adalah app store milik Nokia dan Blackberry, yang juga menerapkan tarif potongan yang sama.

Ini adalah laporan kedua terkait App Store yang dirilis oleh Apple. Sebelumnya Apple juga merilis laporan -- juga dibuat oleh Analysis Group -- yang meneliti pengeluaran para konsumen App Store.

Dalam laporan tersebut disebutkan pada 2019 App Store menghasilkan pemasukan USD 519 miliar, kombinasi antara produk digital dan layanan, di mana 30%-nya diambil oleh Apple, atau sekitar USD 61 miliar.

Apple pun menyebut sejak pertama App Store diluncurkan pada 2008, secara total pengembang sudah mendapat lebih dari USD 155 miliar dari penjualan aplikasi dan pembelian in-app, di mana seperempatnya dihasilkan pada 2019.

Dua laporan ini dirilis setelah banyaknya kritikan terkait potongan yang diterapkan Apple untuk transaksi di App Store, dan Apple pun disebut melakukan praktik monopoli di marketplace digital itu.

Apple dituding lebih mempromosikan aplikasinya sendiri dibanding aplikasi pihak ketiga. Salah satunya lewat hasil pencarian, dan Apple juga diduga mempengaruhi para konsumennya untuk mengunduh aplikasi buatan mereka.

Namun menurut Apple mereka tak melakukan monopoli, dan tetap ada kompetisi di dalam App Store. Contohnya adalah keberadaan aplikasi bawaan Apple seperti Maps, Calendar, dan iCloud, yang mempunyai pesaing seperti Google Drive dan Google Maps, yang juga dibolehkan untuk hadir di App Store.

Lalu CEO Apple Tim Cook pun pernah mempromosikan komitmen Apple untuk mendukung komunitas developer aplikasi App Store. Caranya dengan membuat pusat pengembang di hampir setiap negara, yang mempekerjakan ribuan pekerja, dan juga melanjutkan inovasi mereka untuk menciptakan lapangan kerja baru, serta menggenjot pertumbuhan ekonomi



Simak Video "iPhone Dikabarkan Akan Berubah Nama Jadi Apple Phone"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/rns)