Facebook & CSIS Ungkap Pergerakan Orang Menurun Selama PSBB

Facebook & CSIS Ungkap Pergerakan Orang Menurun Selama PSBB

Virgina Maulita Putri - detikInet
Selasa, 19 Mei 2020 13:52 WIB
Ilustrasi Facebook
Facebook Ungkap Data Pergerakan Pengguna Selama PSBB (Foto: istimewa)
Jakarta -

Facebook dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap pergerakan pengguna di Indonesia selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Data ini dikumpulkan dengan menganalisa Peta Pencegahan Penyakit yang dikeluarkan oleh Facebook.

Analisis ini dilakukan untuk melihat apakah kebijakan PSBB sudah efektif untuk menekan pergerakan masyarakat di tengah pandemi virus Corona, dan apakah masyarakat menuruti kebijakan tersebut.

"Tujuannya selain untuk dipublikasikan menjadi konsumsi publik, tentu saja agar pemerintah memiliki alternatif untuk mengevaluasi kebijakan mereka, itu tujuan yang sebenarnya," kata peneliti CSIS Edbert Gani dalam konferensi pers virtual, Selasa (19/5/2020).

Analisis yang dilakukan CSIS mengguna Peta Pencegahan Penyakit Facebook dilakukan dengan membandingkan pergerakan sebelum PSBB diterapkan (1-9 April 2020) dan setelah PSBB diterapkan (10-20 April).

Analisis ini melihat tiga kelompok yaitu pengguna Facebook yang tidak melakukan pergerakan, pengguna yang melakukan pergerakan di dalam wilayah dan pengguna yang melakukan pergerakan antar wilayah.

Hasilnya, pengguna Facebook yang tidak melakukan pergerakan mengalami peningkatan dari 80% (24 juta orang) menjadi 83% (25 juta orang). Kenaikan ini mulai terlihat pada 24 April setelah mobilitas antar wilayah mulai diperketat.

Pengguna yang melakukan pergerakan di dalam wilayah meningkat dari 3 juta menjadi 3,3 juta. Tapi jarak tempuhnya sangat rendah, di bawah 100 meter.

Sedangkan pengguna yang melakukan pergerakan antar wilayah mengalami penurunan dari rata-rata 2,8 juta per hari menjadi 1,8 juta orang per hari. Jarak tempuh antar wilayah juga menurun, dari rata-rata 41 km menjadi 26,6 km.

Gani mengatakan untuk wilayah Jabodetabek yang menjadi zona merah penyebaran COVID-19 masih ditemukan pergerakan antar wilayah yang tinggi. Bahkan pergerakan di jalur seperti Jakarta-Bekasi dan Jakarta-Banten tidak banyak berubah dibanding sebelum PSBB Jakarta diterapkan.

Menurut Gani hal ini terjadi karena banyaknya pengguna yang bekerja di Jakarta tapi tinggal di daerah penyangga. Sementara itu kebijakan PSBB hanya mengatur pembatasan pergerakan di dalam satu wilayah saja.

CSIS juga menyampaikan bahwa PSBB bisa mengurangi aktivitas masyarakat di dalam kota, tapi belum efektif untuk menekan pergerakan dari dan ke Jakarta. Hal ini bisa memicu munculnya episentrum COVID-19 baru selain Jakarta.

"PSBB kebijakanya lebih di dalam kota. Dari situ kan bisa kita lihat ada kekurangan mungkin dari kebijakan seperti PSBB yang bisa ditingkatkan dengan integrasi antar kota," jelas Gani.

"Belajar dari Jabodetabek, apabila tidak ada integrasi kebijakan dan pelarangan jelas antar kota, penyebaran akan tetap terjadi. Fokus di satu kota satu saja tidak membuat virus itu tidak menyebar, karena orang dari kota penyangga bisa saja datang," pungkasnya.



Simak Video "18 Daerah Sudah Diizinkan PSBB, Ini Daftarnya"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)