Selasa, 11 Feb 2020 14:15 WIB

Guru SMK di Nganjuk Berusaha Bikin Siswanya Cinta Ngoding

Mutiara Arumsari - detikInet
developer dicoding Mohammad Nur Huda, seorang guru SMK asal Nganjuk, Jawa Timur. Foto: Dicoding
Jakarta -

Tuntutan kompetensi pendidik di era digital sangat tinggi. Apalagi kalau murid yang diajar tak suka dengan apa yang mereka pelajari. Namun hal ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi Mohammad Nur Huda, seorang guru SMK asal Nganjuk, Jawa Timur.

"Tantangan buat saya. Harus putar otak biar mereka cinta ngoding," cerita Huda, demikian dia akrab disapa.

Perjalanan Huda sebagai developer dan juga guru, dimulai dari kecintaannya pada hal-hal yang berbau IT sejak di bangku sekolah. Cinta dengan coding sejak di SMKN 1 Nganjuk, lebih tepatnya.

Saat ini, dia masih sambil berkuliah di Universitas Negeri Malang, jurusan Pendidikan Teknik Informatika. Yup, pendidikan Huda memang khusus mengarahkannya sebagai guru sekolah menengah, khususnya di jurusan Rekayasa Perangkat Lunak SMK.

Meski masih berkuliah tingkat akhir, Huda sudah terjun sebagai guru bantu di SMK Muhammadiyah 1 di kota kelahirannya, Nganjuk. Ia bolak balik Nganjuk - Malang sesekali dalam 3 (tiga) minggu untuk praktik mengajar pemrograman dasar, bergerak, dan web.

"Saat ini guru SMK dituntut punya kualifikasi IoT, cloud computing, dan Android. Apalagi (menyimak) arahan Mendikbud kita sekarang ya. Pendidikan IT semakin penting, bahkan sejak SMP," ujarnya.

Sayangnya, ia merasa materi kuliah hanya berisi sedikit praktik dan minim update terbaru. Padahal faktanya, teknologi di era digital berkembang jauh lebih maju dan cepat, apalagi yang terkait dengan pemrograman Android dan web.

Sebagai guru, Huda kerap menemui tantangan lain sekaligus yang terberatnya sebagai guru. Ia rutin menghadapi anak-anak yang sekolah di SMK bukan karena minatnya sendiri, melainkan terpaksa karena tuntutan orang tua. "Sekolah bidang IT saja. Keren." Begitu kata mereka.

Guru SMK di Nganjuk Berusaha Bikin Siswanya Cinta NgodingBersama sebagian dari teman satu angkatannya di Universitas Negeri Malang, jurusan Pendidikan TI. Foto: Dicoding

Tak heran, banyak muridnya yang belajar bukan karena kemauan sendiri, dan memandang aktivitas ngoding dengan ogah-ogahan atau bahkan serupa momok menakutkan. Padahal, puluhan siswa siswi Huda berasal dari jurusan Rekayasa Perangkat Lunak yang mensyaratkan mereka untuk ngoding. Repot kan?

Karena itulah, misi utama Huda itu simpel. Ia ingin menumbuhkan karakter dan perasaan cinta ngoding dalam diri muridnya. Menurutnya, jika siswa sudah suka programming, proses belajar jadi lebih mudah dan menyenangkan.

Karena tantangan yang dihadapinya itu, Huda giat mencari tempat belajar serta rajin berjejaring dengan komunitas dengan sesama programmer. Hingga akhirnya, dia menemukan Dicoding dan mendaftar pada November 2018. Rupanya, 1 dari 5 mahasiswa di angkatannya, juga member Dicoding.

Dengan jadi member Dicoding, Huda semakin mantap belajar materi sesuai dengan kebutuhannya mengajar. Ia memilih pemrograman Android sebagai keahlian utama. Gayung pun bersambut, Huda terpilih jadi salah seorang penerima program belajar 'Google Developers Kejar' serta 'IDCamp 2019'.

Lewat 'Google Developer Kejar', ia telah menuntaskan kelas 'Menjadi Android Developer Expert' dan 'Android Jetpack'. Sementara melalui 'IDCamp' ia telah menggenggam sertifikat 'Kotlin Android Developer Expert'. Maka sempurna lah proses belajarnya sebagai seorang Android Developer.

Guru SMK di Nganjuk Berusaha Bikin Siswanya Cinta NgodingSaat mengadakan acara komunitas di Dilo Malang. Foto: Dicoding

"Materi di Dicoding lengkap, selalu update dan worth-it. Saya jadi belajar pembuatan notifikasi serta fungsi-fungsi Android!," sebutnya.

Saat ini, Huda sedang mempersiapkan diri untuk mengambil sertifikasi Google Associate Android Developer. Untuk terus mengasah skill-nya, selain mengajar, Huda juga menggarap proyek-proyek freelance.

Huda merasa, melamar kerja jadi jauh lebih mudah dengan keahlian dan sertifikat yang dimilikinya. Dari freelance juga, dia bisa membeli kelas langganan di Dicoding sehingga proses belajarnya terus berlangsung.

Jika diakumulasi, tercatat ada 27 kelas yang pernah ia pelajari di Dicoding Academy. Huda tercatat sebagai salah seorang member yang paling rajin luar biasa di Dicoding. Dari 27 kelas tersebut, sebanyak 15 kelas di antaranya telah ia luluskan. Sertifikasi programming yang ia dapatkan juga menurutnya memudahkan tugasnya menjadi guru.

"Saya bisa berbagi materi. Jadi bisa memotivasi dan mempengaruhi siswa saya agar mereka cinta ngoding. Dan bahwa di dunia programing ini ada banyak peluang yang dapat diraih. Tergantung skill yang dimiliki," ujarnya.

Huda berharap, kompetensi guru-guru SMK seperti dirinya bisa terus meningkat. Dia sendiri ingin dalam lima tahun, dia bisa menjadi pengajar di Akademi Komunitas Nganjuk dengan mahasiswa setara D1 atau D2. Kepada teman-teman sesama developer, guru muda ini pun menitip pesan.

"Rintangan pertama itu, kemauan. Awalnya saya juga nggak kenal sama sekali materi-materi IT. semua dari nol, semua belajar mandiri. Tapi saya punya kemauan belajar otodidak. Dari situ ada niatan untuk berkomunitas dan memecahkan masalah ngoding. Belajar - berkomunitas itu penting buat maju," tutupnya.


*) Tulisan ini adalah salah satu artikel di Dicoding, platform pengembangan ekosistem developer di Indonesia, untuk menginspirasi programmer belajar coding. Sumber artikel di sini.

Guru SMK di Nganjuk Berusaha Bikin Siswanya Cinta <i>Ngoding</i>


Simak Video "Pentingnya Dukungan Semua Pihak Wujudkan Indonesia Digital"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)