Senin, 16 Sep 2019 20:08 WIB

Indonesia Masih Minim Adopsi Kecerdasan Buatan

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi. Foto: Chris McGrath/Getty Images Ilustrasi. Foto: Chris McGrath/Getty Images
Jakarta - Indonesia dinilai belum sepenuhnya memanfaatkan kecanggihan dari Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Padahal, pemanfaatannya dapat membantu aktivitas manusia sehari-hari.

Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Damuri mengatakan, adopsi AI sejauh ini baru datang dari pihak swasta. Ia mencontohkan AI diterapkan dalam pemesanan transportasi online dan juga e-Commerce.

"Artificial Intelligence sudah ada di mana-mana, misalnya order transportasi online atau e-commerce untuk belanja, itu artinya sudah ada Artificial Intelligence. Tapi, memang pemanfaatannya masih terbatas, hanya di beberapa tempat saja," ungkapnya di sela acara 2019 CSIS Global Dialogue, Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (16/9/2019).


Padahal, kata Rizal, pemerintah bisa memanfaatkan AI untuk keperluan pembuatan kebijakan publik, misalnya yang berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat. Belum lagi ada dukungan dari ketersediaan infrastruktur yang digelar oleh pemerintah.

"Ini kebanyakan datangnya dari swasta, harusnya pemerintah bisa ikut juga ke dalam dan menjadikan ini skala besar. Kalau didukung pemerintah, skalanya bisa lebih besar lagi," ucapnya.

Rizal menekankan bahwa Artificial Intelligence tak hanya bentuk implementasinya robot seperti keberadaan Sophia, teknologi tersebut bisa diterapkan untuk aktivitas sehari-hari.

"Jangan kita melihat tentang Artificial Intelligence itu bisa dibikin robot seperti Sophia saja, tapi sebenarnya bisa dibikin untuk yang lain yang mungkin lebih sederhana, lebih terasa di sehari-hari, misalnya pengaturan lalu lintas," tuturnya.

"Contohnya tadi ada expert dari Indonesia bilang dalam tiga tahun saja kadang-kadang sudah mecat orang, karena kebutuhannya sudah berbeda. Itu baru dalam perusahaan yang sudah advance, tetapi kalau perusahaan banyak seperti, pemerintah harus menyiapkan tenaga kerja atau pendidikan yang fleksibel dan adaptif, sehingga orang bisa bekerja atau bisa merubah skil mereka secara cepat," pungkasnya.



Simak Video "Ini Nih Rahasia Kamera Ponsel Bisa Serasa Kamera DSLR!"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)