8 CEO Startup Ini Pernah Melesat Lalu Melarat - Halaman 2

8 CEO Startup Ini Pernah Melesat Lalu Melarat

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 18 Agu 2019 20:10 WIB
Halaman ke 2 dari 2
8 CEO Startup Ini Pernah Melesat Lalu Melarat
Foto: Business Insider

Jawbone Health, wearable gadget yang berfungsi sebagai fitness tracker dan kebugaran sukses meraup sekitar USD 950 juta. Jawbone tercatat menghabiskan hampir USD 1 miliar selama satu dekade, tetapi pada akhirnya tidak dapat membuat wearable gadget yang bisa bersaing dengan saingannya, Fitbit.

Pendiri dan CEO Jawbone Hosain Rahman, mengajukan kebangkrutan Chapter 7 pada tahun 2017 dengan rencana menjual beberapa aset Jawbone. J.P. Morgan bahkan menggugat Rahman dengan tuduhan dia gagal membayar pinjaman. Untuk masalah pinjaman, kedua pihak akhirnya menyelesaikannya.

Reuters menggambarkan Jawbone sebagai 'kegagalan terbesar kedua di antara perusahaan-perusahaan yang didukung pendanaan dari venture capital.'

Meski demikian, hal tersebut tidak menghalangi kemampuan Rahman mengumpulkan jutaan dolar. Dia masih sanggup mengumpulkan lebih dari USD 65 juta untuk membangun perusahaan baru tahun ini.

8 CEO yang Dulu Melesat Namun Kemudian MelaratFoto: Business Insider

6. Chet Kanojia

Melesatnya kepopuleran Aereo, startup streaming televisi dan video yang dipelopori Chet Kanojia, harus terjegal oleh putusan Mahkamah Agung AS pada 2014.

Pengadilan memutuskan Aereo melanggar hukum hak cipta pada 2014, hanya dua tahun setelah didirikan. Lima bulan kemudian, Kanojia dan Aereo berakhir di pengadilan lagi. Tapi kali ini, untuk mengajukan kebangkrutan.

Meski demikian, Silicon Valley bukanlah tempat di mana para entepreneur yang gagal menyerah begitu saja. Pada 2016, Kanojia mengumumkan rencananya menggebrak industri broadband dengan menyediakan internet murah dan cepat lewat startup bernama Starry yang berbasis di Boston.

8 CEO yang Dulu Melesat Namun Kemudian MelaratFoto: Business Insider

7. Daniel Ishag

Aplikasi taksi Karhoo berakhir sendu karena mereka kehabisan uang. Hanya 18 bulan setelah diluncurkan, pendiri dan CEO Karhoo Daniel Ishag mengundurkan diri, dan beberapa hari kemudian, perusahaan mengumumkan rencananya untuk tutup.

Ishag tidak pernah menyatakan berapa banyak pendanaan yang didapatkan Karhoo, tetapi menurut Forbes, perusahaan itu dilaporkan menghabiskan USD 52 juta dalam waktu singkat dan akhirnya mengajukan kebangkrutan.

Ketika Karhoo menutup Karhoo pada 2016, ia masih berhutang hampir USD 2 miliar kepada para pekerjanya di kota-kota di seluruh dunia. Namun, Karhoo sempat punya secercah harapan ketika Nissan dan Renault menawarkan akuisisi. Namun tidak diketahui bagaimana nasib penawaran ini.

Kabar terbaru menurut Business Wire, Ishag telah meninggalkan bidang teknologi transportasi dan merambah layanan kesehatan dengan startup baru bernama Baseline Health Technologies.

8 CEO yang Dulu Melesat Namun Kemudian MelaratFoto: Business Insider


8. Kevin Gibbon

Shyp, startup pengiriman on demand, sering dibandingkan dengan Uber karena potensinya yang menggebrak seluruh industri. Sayangnya, Shyp keburu tenggelam.

Padahal, Shyp mampu mengumpulkan pendanaan USD 60 juta dari perusahaan-perusahaan seperti Kleiner Perkins. Shyp gagal mencapai kesuksesan ketika mereka berusaha mengumpulkan lebih banyak uang, dan ditolak.

Mantan CEO dan salah satu pendiri Shyp Kevin Gibbon, menulis sebuah postingan blog pada Maret 2018 yang merinci rencana untuk menutup Shyp.

"Uber telah mengubah cara konsumen berpikir tentang transportasi. Kami dapat melakukan hal yang sama. Dan saya percaya itu," tulisnya.

Fortune melaporkan, kegagalan Shyp menggambarkan tren yang mengkhawatirkan, yakni seorang CEO yang mudah tertipu seperti Gibbon percaya 'tumpukan uang itu bertahan selamanya, dan bahwa menarik venture capital terkenal menjamin kesuksesan.''

Bulan lalu, Shyp mengumumkan lewat Twitter rencananya untuk bangkit kembali, namun kali ini tanpa Gibbon berada di dalam tim.



(rns/rns) (rns/rns)