Kamis, 15 Agu 2019 15:45 WIB

Pasukan Digital di Desa Ciburial

Baban Gandapurnama - detikInet
Pemandangan dari Tebing Keraton di Desa Ciburial. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET) Pemandangan dari Tebing Keraton di Desa Ciburial. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET)
Bandung - Maulana tampak riang menikmati sensasi ketinggian dengan pemandangan alam nan eksotis di Tebing Keraton. Siang itu, ekspresi wajah pemuda gondrong berusia 21 tahun ini semringah.

"Ya senang dong. Foto-foto selfie gitu, terus eksis di media sosial," ujar warga Kota Cimahi tersebut saat berbincang dengan detikcom, awal Agustus 2019.

"Sinyalnya oke di sini," kata Maulana sambil menggenggam ponsel cerdas layar sentuh.

Tebing Keraton masuk kawasan Taman Hutan Raya Djuanda. Letaknya di Kampung Ciharegem Puncak, RT 3 RW 10, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Spot tebing menjulang, yang menyuguhkan panorama lembah hutan hijau dan hamparan pinus, berada di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut (mdpl).

Tebing Keraton, dahulunya bernama Bukit Jontor, mulai mencuat disorot masyarakat sejak Mei 2014. Keberadaan dataran tinggi di Desa Ciburial ini fenomenal dan bikin heboh jagat maya setelah penikmat wisata alam memamerkan unggahan foto-fotonya via media sosial. Julukan "Tebing Instagram" bergulir deras.

Penasaran dengan pesona keindahan alam menakjubkan tersebut, selfie hunter dan Instagram updater datang bergelombang. Pengelola pun bertahap menata keamanan serta kenyamanan area bukit dan membenahi akses untuk khalayak.

Pasukan Digital di Desa CiburialPemandangan dari Tebing Keraton di Desa Ciburial. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET)

Tebing Keraton resmi menjadi tempat wisata pada Mei 2016. Semula jalannya bebatuan tetapi kini jalurnya sudah mulus berlapis beton sehingga nyaman dilewati kendaraan roda dua dan empat. Jarak dari Gedung Sate ke Tebing Keraton sejauh 11 kilometer atau ditempuh normal dengan kendaraan selama 25-30 menit.

Maulana tak ubahnya seperti kebanyakan milenial dan masyarakat kekinian. Butuh akses internet, ditemani gawai, serta berekspresi lewat media sosial dengan membagikan pesan berupa teks, video, foto dan suara. Begitu juga saat menyambangi kawasan objek wisata yang bercokol di pedesaan.

Desa Ciburial yang memiliki luas 599,612 hektare ini dikelilingi perbukitan. Tercatat pada 2019, berdasarkan data Pemdes Ciburial, jumlah penduduknya sekitar 13 ribu jiwa. Mereka tersebar di empat dusun terdiri 12 RW dan 53 RT.

Meski wilayahnya berada di dataran tinggi dan bernaung bukit, aksesibilitas telekomunikasi di Ciburial sudah mumpuni. Kini mayoritas masyarakatnya merasakan ketersediaan layanan seluler atau internet.

"Sinyal bagus. Jaringan 4G sudah masuk. Ada beberapa BTS (base transceiver station) sudah terpasang di Desa Ciburial. Sekarang masyarakat gampang mengakses internet," ucap Kaur Keuangan Pemdes Ciburial Ayi Sumarna saat ditemui di kantor Desa Ciburial, Jalan Ciburial No.98, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

"Memang ada tiga titik di Ciburial yang blankspot, ya karena rumah warga 'terjepit' bukit. Tapi tinggal geser lokasi saja sudah dapat sinyal. Enggak masalah," kata Ayi selaku pengelola website ciburial.desa.id.

Pasukan Digital di Desa CiburialPemandangan dari Tebing Keraton di Desa Ciburial. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET)

Salah satu tokoh masyarakat Ciburial, Bunyamin (40), mengamini pernyataan Ayi. "Tetap bisa terakses internet. Daerah ini bukit dan lembah, tapi bagus sinyalnya."

Ciburial punya seabreg potensi, yang juga terus dikembangkan pemerintah dengan melibatkan peran masyarakat setempat. Hasilnya, pada 2014, Ciburial ditetapkan sebagai Desa Wisata di Kabupaten Bandung. Ada wisata sejarah berupa goa Belanda-Jepang, wisata alam terdiri Taman Hutan Raya Djuanda dan Tebing Keraton, budaya permaianan tradisonal yang dibesut Komunitas Hong, kuliner peyeum, tahu serta madu, dan agrowisata.

Selain itu, jalur menanjak dan menurun di Ciburial ini kerap dijajal pesepeda dan pelari kala akhir pekan. Kegiatan olahraga itu didukung suasana asri dan sejuk karena banyaknya pepohonan.

Di era teknologi modern sekarang ini, tak dimungkiri internet merupakan bagian penting dan dibutuhkan oleh ragam bidang. Saling terkoneksi secara digital telah memudahkan aparatur pemerintah serta masyarakat pedesaan berkreasi dan berinovasi positif. Selaras dengan program Kemenkominfo melalui Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) yang menargetkan Indonesia bisa merdeka sinyal pada 2020. Tujuannya agar jaringan telekomunikasi di Tanah Air dapat merata dinikmati seluruh masyarakat.

"Sudah zamannya internet, jangan sampai kita ketinggalan untuk memanfaatkannya dengan baik," ujar warga Ciburial lainnya, Muchtar Zulfikar (40), selaku ketua Lembur Kaulinan Lebak Siuh Ciburial.

Pasukan Digital di Desa CiburialDesa Ciburial. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET)


Desa Digital

Ayi Sumarna membuka memori ingatannya 10 tahun silam. Ia berkisah mengenai rutinitas turun gunung dari kantor Desa Ciburial ke Kota Bandung demi mengisi aneka konten website desanya.

"2009 itu sulit akes internet. Enggak ada sinyal di Ciburial. Jadi, kalau saya posting untuk isi website Desa Ciburial, harus turun ke Kota Bandung. Kita siapkan dulu materi offline-nya, berupa naskah dan foto, kemudian ke warnet (warung internet)," tuturnya.

Ia berjuang dan kerja ekstra mengenalkan Desa Ciburial kepada publik melalui internet. Ayi aktif menyajikan informasi seputar Ciburial dan aktivitas Pemdes.

"Saat sisa-sisa waktu luang, saya dokumentasikan kegiatan Pemdes. Informasi-informasi yang diupload di website ini bisa menjadi suatu catatan atau arsip," ucap Ayi.

Empat tahun berlalu, di 2013, penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dirasakan manfaatnya oleh Pemdes Ciburial. "Saat itu kantor memasang layanan internet," Ayi mengenang.

Setahun kemudian atau 2014, menurut Ayi, internet kian mudah diakses warga Ciburial lantaran infrastruktur jaringan telekomunikasi hadir di sejumlah titik.

Pasukan Digital di Desa CiburialDesa Ciburial. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET)

Memoles potensi desa dengan sentuhan teknologi, Ciburial telah dikenal sebagai desa cerdas atau desa digital. Ayi bersama pejuang digital di Ciburial lainnya makin gencar mempromosikan potensi wisata dan kemandirian masyarakat. Mereka menggunakan media sosial yaitu Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube, baik itu akun resmi Pemdes maupun akun perorangan warga Ciburial.

"Kami juga bikin beberapa grup WhatsApp untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat. Selain itu, kami punya Ciburial TV yang ditayangkan di YouTube," tutur Ayi.

Ia mengungkapkan pengelolaan situs daring Desa Ciburial untuk 2009-2018 menggunakan dana APBDes. "Pada 2019 ini pakai kas desa," kata Ayi.

Selain itu, ia menjelaskan, Balai Desa Ciburial sengaja melengkapi fasilitas internet gratis bagi warga. Di tempat sama, hadir perpustakaan untuk menggalakkan budaya membaca dan literasi.

"Ada WiFi di Balai Desa. Tahun ini, kami juga merencanakan digitalisasi perpustakan. Jadi tiap buku itu ada barcode untuk memudahkan pendataan," .

Geliat digitaliasi ala Desa Ciburial membetot perhatian khalayak luas dan Pemkab Bandung. Momen manis pun ditorehkan Pemdes Ciburial yang dinobatkan sebagai Komunitas TIK terbaik se-Jawa Barat (2016) dan Juara 1 Lomba Website Desa Kabupaten Bandung (2018).

Ekosistem digital terus dibentuk Ayi dengan bantuan rekan kerja dan segelintir warga yang bernaung dalam Kelompok Masyarakat Informasi (KMI) Ciburial, salah satu Lembaga Kemasyarakatan mitra Pemdes. KMI Ciburial menggelorakan misi mengembangkan, memberdayakan, memfasilitasi dan menyebarluaskan informasi berbasis TIK untuk publik.

Pasukan Digital di Desa CiburialAyi Sumarna. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET)

"Ada 20 orang pasukan digital. Saya sebut mereka ini kontributor dan relawan. Mereka menyumbang artikel, foto, video, lalu saya tampilkan di web. Ada juga yang menampilkannya di masing-masing akun medsos," ucap Ayi.

Hingga kini pasukan digital Ciburial kompak dan solid berbagi peran memamerkan keaneka ragaman desanya. Ciburial tak sekadar kesohor tingkatan lokal dan nasional, tapi juga beken di masyarakat global.

"Berkat teknologi informasi, Ciburial makin terkenal. Mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia datang meneliti desa digital Ciburial. Selain itu, wisatawan luar negeri juga datang ke Ciburial," tutur Ayi.

"Banyak juga desa lainnya di Indonesia studi banding soal desa wisata dan digital. Kami sampai kewalahan menjamunya," kata Ayi sambil tertawa.

Tiar Gustirawan (30), warga Ciburial sekaligus pasukan digital, rajin mengeksplorasi kampung halamannya dengan jepretan kamera digital. Ia posting visual tempat-tempat wisata, pemandangan alam, dan aktivitas keseharian warga Ciburial.

Foto-foto ciamik hasil karya Tiar memikat warganet. Instagram menjadi sarananya menyalurkan bakat fotografi.

"Saya isi foto-foto hasil motret menggunakan kamera dan drone," ucap pemilik akun @pesonaciburial tersebut.

Sejak 2018, lelaki tersebut aktif gembar-gembor gambar. Tujuannya ingin mengajak masyarakat mengetahui lebih jauh soal desa wisata Ciburial.

"Ciburial ini kan desa wisata. Pesona di desa ini yang saya tampilkan. Konsep pertama, saya sajikan desa wisata Ciburial lewat foto-foto, ini loh Ciburial. Konsep kedua, foto-foto aktivitas warga Ciburial," ujar Tiar.

Sekadar diketahui, Pemprov Jabar tengah gencar melancarkan program desa digital. Tahun ini, sebanyak 600 desa di Jawa Barat ditargetkan dapat mengakses internet. Di Jawa Barat, totalnya ada 5.500 desa.

Edukasi Internet Sehat

Merdeka sinyal bukan berarti menciptakan penduduk Ciburial yang serampangan menggunakan internet. Warga boleh bebas berekspresi, namun ada batasan guna menghindari pelanggaran norma dan aturan hukum.

Ayi Sumarna, sebagai pegiat TIK sekaligus mewakili Pemdes Ciburial, bersama para pasukan digital, jauh hari turun tangan mencegah dampak negatif internet. Warga Ciburial dibekali literasi dan skill digital agar memperoleh faedah internet secara bijak.

Kegiatan offline pun kerap digelar KMI Ciburial. "Kami sering kumpulkan warga, dari kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu, untuk belajar pengetahuan teknologi informasi. Misalnya cara membuat email, sosialisai internet dan lainnya," ucapnya.

Pasukan Digital di Desa CiburialDesa Ciburial. (Foto: Baban Gandapurnama/detikINET)

Pihaknya bekerja sama dengan sejumlah mahasiswa kampus perguruan tinggi dan komunitas TIK untuk pendampingan warga. Edukasi yang digulirkan tersebut bertujuan membentuk ekosistem digital yang dibekali pengetahuan rambu-rambu UU ITE.

"Kami edukasi warga soal bahaya hoaks. Pesertanya banyak emak-emak," kata Ayi.

Internet menggiatkan warga memperoleh dan menyerap cepat informasi pelayanan publik dari Pemdes Ciburial yang terintegrasi melalui website. Misalnya, soal tata cara pengurusan dokumen kependudukan hingga layanan interaksi komunikasi online via WhatsApp (WA).

"Di situs ini ada dua WA. Tanda merah dan hijau. Hijau itu untuk informasi soal pembuatan akta kelahiran, KTP dan lainnya. Kalau tanda merah, untuk darurat. Misalnya ada kejadian kebakaran, selain itu kalau ada warga yang sakit bisa menginformasikan, nanti kami antar pakai mobil ke rumah sakit," tutur Ayi.

Pemdes Ciburial, menurut Ayi, tengah menyusun rencana berkaitan program e-commerce dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat. Usaha Kecil Menengah (UKM) di Ciburial antara lain kerajinan tangan, makanan peyeum, tahu, dan madu. Selain itu ada ternak sapi, kambing dan ayam.

Bunyamin (40), salah satu tokoh masyarakat Kampung Lebak Siuh, Ciburial, sudah 1,5 tahun melakoni dagang online. Ia berkolaborasi dengan warga Ciburial lainnya yang notabene peternak ayam kampung.

"Kami jualan ayam kampung secara online. Jualannya di Instagram. Ada 18 peternak ayam kampung yang gabung. Layanan kami untuk konsumen di Bandung Raya," ucap Bunyamin.

Ayam kampung yang sudah dipotong itu dijual mulai harga Rp 85 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram. Tiap bulannya sebanyak 200 ekor dipesan konsumen.

"Penyembelih ayam yang kami siapkan itu memiliki sertifikat. Jadi dijamin kehalalannya," ujarnya.

Bukan hanya ayam kampung, Bunyamin menggaet petani sayuran meramaikan lapak digital. Bagi dia, layanan intenet di Ciburial telah membawa hal positif dalam aktivitas bisnis.

"Sebelum ada internet, jualan itu dari mulut ke mulut. Pembeli kurang. Kalau sekarang jualannya online, jadi banyak pembeli," tutur Bunyamin dengan ekspresi bangga.


(bbn/krs)