Jumat, 26 Jul 2019 07:30 WIB

Difabel Asal Kudus Ini Ciptakan 5 Aplikasi & Siap ke Gedung Putih

Akrom Hazami - detikInet
1 Bersiap ke Gedung Putih
Halaman 2 dari 2
Anjas Pramono Foto: Akrom Hazami/detikINET Anjas Pramono Foto: Akrom Hazami/detikINET

Tak kalah membanggakannya, Anjas menjadi satu dari tiga mahasiswa Indonesia yang akan menuju Gedung Putih alias kantor presiden AS di Washington DC.

Dia akan menyampaikan konsep sosial yang jadi filosofi warga Kabupaten Kudus, Gusjigang. Akronim dari akhlak yang bagus, pintar mengaji dan berdagang.

"Saya ke Gedung Putih pada 21 September. Visa ditanggung embasi Amerika. Saya persentasikan konsep Gusjigang. Parameter orang beraklak akan seperti apa. Saya dapat kesempatan satu bulan di sana. Adu gagasan di sana. Semua proyek ditanggung penyelenggara." kata sulung dari dua bersaudara ini.

Dia berharap nantinya konsep Gusjigang akan dibuatnya dalam sebuah aplikasi Android. Agar nantinya bisa menjadi kontribusinya bagi kota kelahirannya. Pria tuna daksa ini berharap bisa ikut membangun kotanya.

Penolakan & Bullying
Kendati kini menorehkan banyak prestasi yang membanggakan, banyak hal pahit dirasakan Anjas sebagai seorang difabel.

Anjas mengalami kelainan penyakit tulang bernama Osteo Genesis Imperfecta. Kelainan berupa pengeroposan tulang dan merapuhnya tulang ketika masih kanak-kanak. Tepatnya sejak kelas 5 SD.

Difabel Asal Kudus Ini Ciptakan 5 Aplikasi & Siap ke Gedung PutihAnjas Pramono. Foto: Akrom Hazami/detikINET

Karena kondisi fisiknya itu, dia sempat mendapatkan penolakan saat hendak masuk salah satu SMP di Kudus. Walaupun akhirnya diterima, yang tidak dilupakannya, ada oknum guru di SMP itu pernah melontarkan kalimat agar Anjas masuk SMP luar biasa saja.
Padahal dia mendapatkan nilai terbaik nomor 5 se-Kabupaten Kudus saat itu.

"Saya punya pengalaman pahit saat masuk SMP, hampir ditolak karena saya difabel. Saat itu, NEM saya 28,5. Rata-rata nilai saya 9, sekian. Saya peringkat satu di sana. Tapi saya disuruh ke SMP LB oleh sekolah," terang Anjas

"Mental anak pasti down. Nilai saya tinggi, nomor 5 se-kabupaten. Saya malah diminta ke SMPLB dengan alasan tidak punya guru untuk membimbing disabilitas. Saya tidak butuh itu. Mereka beralasan tidak punya fasilitas. Zaman dulu saya tidak punya kursi roda, saya digendong. Itu alasan yang tidak rasional," kenangnya.

Anjas pun mengaku mengalami bullying dari lingkungan di SMP-nya. Tapi semua itu tidak berlanjut saat masuk SMA. Malah pihak sekolah memberikan dukungan penuh.

"Meski akhirnya saya bisa masuk SMP itu, tapi di lingkungan sekolah itu saya kerap dibully, tidak mendapat dukungan sana sini. Beda saat saya masuk SMA. Di salah satu SMA favorit di Kudus, saya bisa masuk. Bahkan di SMA saya, memberikan peluang lebar untuk saya berkarya. Bahkan sekolah langsung membuat bidang miring (fasilitas difabel) tanpa saya minta," ujarnya.

Dukungan yang begitu besar dari SMA-nya, membuat Anjas bisa menorehkan prestasi. Pada 2014 dia mewakili Indonesia di olimpiade Matematika di Singapura.

"Saat di SMP saya bukan siapa-siapa," ungkapnya mengenang momen yang masih membekas di hatinya.

(afr/afr)