Kamis, 18 Jul 2019 14:43 WIB

Capres AS dari Silicon Valley Didukung Pendiri Twitter & Facebook

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Andrew Yang. Foto: REUTERS/Mike Segar Andrew Yang. Foto: REUTERS/Mike Segar
Jakarta - Amerika Serikat sedang bersiap untuk menyelenggarakan pemilihan presiden pada 2020 mendatang. Beberapa nama seperti petahana Donald Trump dan Joe Biden, wakil presiden untuk Barrack Obama selama dua periode, sudah memunculkan hasratnya untuk berkompetisi pada pilpres tahun depan.

Di samping itu, jagat teknologi juga tidak mau ketinggalan dalam menyumbang nama. Pusat teknologi Negeri Paman Sam, Silicon Valley, mengusung nama Andrew Yang, pendiri organisasi nirlaba Venture for America, untuk bersaing dengan para politisi tersebut.




Pada Maret lalu, kurang lebih 3.000 orang berkumpul di San Francisco, California, Amerika Serikat, untuk memberikan dukungan kepadanya. Lalu, sekitar 200 talenta Silicon Valley menghadiri diskusi yang diadakan Andrew Yang kemarin waktu setempat.

Para pendukung pria kelahiran New York itu kerap mengenakan atribut bertuliskan MATH. Andrew sendiri mengatakan itu merupakan singkatan dari "Make America Think Harder", seakan ingin melawan jargon MAGA (Make America Great Again) milik Donald Trump.

"Saya merupakan sosok untuk pekerjaan ini (presiden) karena kebalikan dari Donald Trump adalah pria Asia yang menyukai matematika," ujarnya dalam pertemuan yang diselenggarakannya Rabu (17/7/2019) waktu San Francisco, sebagaimana detikINET kutip dari CNBC, Kamis (18/7/2019).

Akronim MATH sendiri muncul lantaran para talenta teknologi di Silicon Valley mengatakan Andrew terbiasa menjawab pertanyaan dengan jawaban yang berdasarkan data.




Didukung Pendiri Twitter hingga Facebook

Salah satu program yang diusung oleh Andrew adalah "Freedom Dividend". Melalui program tersebut, ia mengklaim tiap warga Amerika Serikat akan mendapatkan USD 1.000 per bulan dari hasil keuntungan perusahaan.

Ia berpendapat dividen tersebut dapat memberikan efek yang membangun lantaran uang yang dibagikan akan kembali lagi ke perputaran ekonomi. "Freedom Dividend" ini pun berhasil menarik sejumlah nama besar di dunia teknologi untuk memberikan dukungan kepadanya.

Berdasarkan data dari situs kampanye kepresidenan Andrew Yang, co-founder Twitter, Jack Dorsey, dan CEO OpenAI, Sam Altman, tercatat sudah memberikan donasi kepada pria berusia 44 tahun tersebut. Keduanya, secara berurutan, menyumbang sebsar USD 1.000 dan USD 2.700.




Selain itu, co-founder Facebook, Chris Hughes, juga dilaporkan mengeluarkan donasi USD 250 untuk kampanye Andrew. Bahkan, pentolan band Weezer, Riverse Cuomo, juga tampak sebagai donatur dengan sumbangan USD 1.000.

Menarik untuk ditunggu apakah Andrew dapat memimpin Amerika Serikat tahun depan. Pasalnya, walau tampak mendapat dukungan besar dari dunia teknologi, ia belum bisa menarik perhatian Demokrat sebagai partai tempatnya bernaung.




Simak Video "Respons Facebook-Twitter soal Denda Rp 100 Juta Kominfo"
[Gambas:Video 20detik]
(mon/krs)