Jumat, 17 Mei 2019 22:30 WIB

Facebook Sulit Rekrut Pegawai Usai Skandal Cambridge Analytica?

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: Michael Short/Bloomberg Foto: Michael Short/Bloomberg
Jakarta - Efek dari skandal Cambridge Analytica disebut-sebut masih dirasakan Facebook sehingga kesulitan merekrut pegawai baru. Apa benar begitu?

Dilansir detikINET dari CNBC, lebih dari setengah lusin perekrut yang meninggalkan Facebook dalam beberapa bulan terakhir mengatakan perusahaan media sosial tersebut mengalami penolakan tawaran pekerjaan yang cukup signifikan setelah skandal Cambridge Analytica pada bulan Maret 2018.




Skandal ini melibatkan perusahaan analisis data Cambridge Analytica di mana mereka menyalahgunakan data milik 87 juta pengguna Facebook untuk menargetkan iklan kampanye Donald Trump saat pemilihan umum AS tahun 2016.

Hal ini tentu sangat mempengaruhi Facebook yang selalu berupaya merekrut ribuan pegawai baru tiap tahunnya untuk meningkatkan produk dan inovasi mereka. Bahkan Facebook kesulitan untuk menggaet lulusan baru dari universitas ternama di AS untuk menjadi pegawainya.

Universitas ternama yang dimaksud antara lain Stanford, Carnegie Mellon dan universitas Ivy League lainnya. Tingkat penerimaan Facebook untuk posisi penuh waktu yang ditawarkan kepada lulusan baru turun dari rata-rata 85% untuk tahun ajaran 2017/2018 menjadi antara 35-55% pada bulan Desember 2018.

Penurunan terbesar datang dari Carnegie Mellon University di mana tingkat penerimaan pegawai baru turun hingga 35%.




Tidak hanya itu, perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini juga kesulitan merekrut software engineer untuk divisi produk mereka. Pada akhir tahun 2016, tingkat penerimaan untuk divisi tersebut sebesar 90% dan turun menjadi 50% di awal tahun 2019.

Mantan perekrut di Facebook mengatakan setelah skandal Cambridge Analytica calon pegawai Facebook jadi lebih sering menanyakan bagaimana pendekatan dan kebijakan perusahaan terhadap privasi.

Akan tetapi juru bicara Facebook, Anthony Harisson membantah laporan tersebut. Ia mengatakan persentase ini tidak benar dan jumlah pegawai Facebook meningkat 36% year-over-year dari kuartal pertama tahun 2018 hingga kuartal pertama tahun 2019.




"Facebook secara reguler mendapat peringkat tinggi sebagai tempat kerja yang menarik. Sebagai contoh, pada tahun lalu kami diberi peringkat #1 di Indeed's Top Rated Workplaces, #2 di LinkedIn's Top Companies, dan #7 di Glassdoor's Best Places to Work," kata Harrison dalam keterangan resminya.

"Survei magang tahunan kami menunjukkan sentimen yang kuat dan niat untuk kembali dan kami terus melihat tingkat penerimaan yang kuat di seluruh perekrutan universitas," pungkasnya.


(vim/fyk)