Selasa, 30 Apr 2019 23:00 WIB

Adopsi & Antusiasme AI di Indonesia Besar, Saatnya Diatur UU?

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: istimewa Foto: istimewa
Jakarta - Penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia untuk berbagai sektor industri mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Di beberapa negara lain, penerapan AI dalam skala besar turut diwarnai dengan diskusi mengenai etika dan potensi penyalahgunaan. Bahkan negara seperti China dan Uni Eropa sudah menyusun undang-undang yang khusus mengatur tentang AI.

Sehubungan dengan itu, menurut Head of Nvidia-Binus AI R&D Center Bens Pardamean, pemerintah Indonesia pun semestinya menyusun pula kebijakan serupa untuk mengatur penggunaan AI di Indonesia.

"Itu salah satu yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Artinya bagaimana supaya sama dengan UU ITE atau UU tentang fintech," kata Bens di Jakarta, Selasa (30/4/2019).




Apalagi belakangan ini sudah semakin banyak pemain dari berbagai industri yang terlibat dalam pengembangan dan penerapan AI. Bahkan startup lokal pun banyak yang mengembangkan sistem dan solusi berbasis AI.

Salah satu startup tersebut adalah Nodeflux yang mengembangkan teknologi Vision AI. Co-founder dan CTO Nodeflux, Faris Rahman, pun mengatakan saat ini antusiasme industri di Indonesia terhadap penggunaan AI terhitung tinggi.

"Ada report yang mengatakan di Forrester Consulting bahwa di Southeast Asia, itu adopsi AI cukup tinggi dan nomor satu itu Indonesia. Even compared antara China sama Singapura," kata Faris dalam kesempatan yang sama.

"Kita melihat adopsi AI akan cukup banyak dan antusiasmenya di Indonesia cukup banyak," pungkasnya.





(vim/krs)