Selasa, 19 Feb 2019 18:13 WIB

'Pengkhianatan' Facebook pada WhatsApp

Fino Yurio Kristo - detikInet
1 Keluarnya Brian Acton dan Jan Koum
Halaman 2 dari 3
Brian Acton dan Jan Koum. Foto: istimewa Brian Acton dan Jan Koum. Foto: istimewa

Mark Zuckerberg dan para petinggi WhatsApp menggodog beragam cara untuk membenamkan iklan di WhatsApp. Hal itu membuat tidak senang Brian Acton, pendiri WhatsApp, yang kemudian memilih hengkang pada akhir 2017. Apalagi motto Acton di WhatsApp adalah 'No ads, no games, no gimmicks'.

Menurut Acton, Facebook memutuskan akan memonetisasi WhatsApp dengan dua cara. Pertama, memajang targeted ads di fitur status, yang bikin Acton kecewa. "Metode periklanan seperti inilah yang membuatku tidak senang," tandas Acton.

Kemudian Facebook ingin menjual tool untuk pebisnis yang memungkinkan mereka berhubungan dengan pengguna WhatsApp tertentu walau ada halangan karena WhatsApp dilindungi penyandian. Facebook memang tak berencana membongkarnya, tapi mencari kemungkinan apakah bisa melakukan analisis user di 'lingkungan' yang sudah tersandi.

Soal monetisasi ini, Acton mengusulkan user WhatsApp membayar jika sudah menghabiskan jatah mengirim pesan gratis dalam jumlah tertentu. "Dengan ini, tidak perlu kekuatan penjualan yang besar. Ini adalah bisnis sederhana," kata dia.

Tapi usulan Acton ditolak oleh Chief Operating Officer Facebook, Sheryl Sandberg dengan alasan metode itu tidak akan menghasilkan banyak uang. Pertentangan itulah yang menjadi salah satu alasan Acton akhirnya memutuskan mundur dari Facebook.

"Pada akhirnya, aku menjual perusahaanku. Aku menjual privasi user. Aku membuat pilihan dan berkompromi. Dan hal itu selalu mengusikku setiap hari," sebut Acton.

"Aku sudah terjual, aku mengakui hal itu," tambah dia dalam wawancaranya dengan Forbes. Belakangan pada pertengahan tahun 2018, Jan Koum juga memutuskan mundur dari WhatsApp. Meskipun tak menyebut alasannya, banyak dugaan ia berpikiran sama dengan Acton.

(fyk/krs)