Jumat, 09 Nov 2018 09:19 WIB

Persiapan Harbolnas, e-Commerce Diingatkan untuk Jujur

Virgina Maulita Putri - detikInet
Ilustrasi. Foto: Getty Images Ilustrasi. Foto: Getty Images
Jakarta - Sedikit lagi Hari Belanja Online Nasional atau yang biasa disebut Harbolnas akan diadakan dan diramaikan oleh ratusan e-commerce di Indonesia.

Mengantisipasi e-commerce yang melakukan praktik curang, seperti menaikkan harga barang sebelum didiskon, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung mengingatkan e-commerce anggotanya untuk bermain secara jujur.

"Intinya adalah idEA melihat bahwa ketika ada kesempatan untuk berjualan pasti ada kesempatan untuk menipu. Selalu begitu, itu nggak bisa dipungkiri," kata pria yang akrab disapa Untung tersebut seusai konferensi pers idEA Works di kawasan Senopati, Jakarta, Kamis (8/11/2018).



"Nah kita mendorong Harbolnas kali ini untuk lebih fair," sambungnya.

Untung juga mengingatkan bahwa jika ada e-commerce yang ketahuan berbuat curang maka semua e-commerce lain juga harus menanggung reputasi yang buruk.

"Karna kita bilang bahwa 'eh ini kalau sampai jelek ,yang jelek bukan cuma nama kamu tapi nama kita semua rame-rame'. Jadi itu kita pasti dorong," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Untung juga menjelaskan bahwa pihaknya sedang membahas aturan untuk e-commerce dan brand yang ingin melakukan flash sale.

Pembicaraan idEA dengan stakeholder seperti Kementerian Perdagangan, Kemenko Perekonomian, Kominfo, dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sendiri masih dalam tahap awal.

"Jadi prosesnya nggak pendek sih, prosesnya panjang tapi kita sudah mulai. ini levelnya masih diskusi jadi belum keputusan final," ujarnya.

Untung mengatakan bahwa ada beberapa wacana yang dibahas dalam pembicaraan ini. Namun, salah satu yang menjadi fokus adalah larangan untuk brand menjual rugi.



"Contoh misalnya orang boleh melakukan diskon tapi tidak boleh jual rugi. Kenapa, kalau jual rugi nanti adu kuat-kuatan uang saja," jelas

"Siapa yang uangnya gede ya jual rugi aja, terus abis itu dia terjual banyak. Yang uangnya nggak banyak, nggak bisa dapat transaksi terus mati. Begitu mati, subsidinya dicabut terus jadi monopoli," pungkasnya. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed