Kisah Para Single Mom Tangguh yang Jadi Driver Grab

Kisah Para Single Mom Tangguh yang Jadi Driver Grab

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Jumat, 26 Okt 2018 21:02 WIB
Sa'amih. Foto: Imron Rosyadi/detikinet
Jakarta - Perempuan tangguh itu bernama Sa'amih. Di lingkungan sesama mitra pengemudi Grab, ia biasa dipanggil bunda. Hal tersebut lantaran dirinya merupakan satu-satunya perempuan di komunitas Grab tempat ia bergabung awalnya.

Sudah 1,5 tahun Sa'amih menjadi mitra driver Grab. Ia memilih untuk mengendarai kendaraan roda empat. Sebelumnya, ia sempat menekuni usaha jual-beli komputer, baik itu hardware maupun software. Ia juga pernah menjadi mitra pengemudi Go-Jek untuk kendaraan roda dua.

Banyak lika-liku yang dilaluinya sampai berada di posisinya saat ini. Ia pun bersedia membaginya kepada detikINET ketika ditemui dalam sebuah kesempatan di Jakarta.



"Dulu, saya usaha komputer bareng suami, tapi kemudian dia meninggalkan saya beserta anak-anak karena ada perempuan lain. Karena usaha bersama, dia bawa semua asetnya. Saat itu saya hanya punya motor satu-satunya. Akhirnya karena saat itu lagi booming daftar ojol jadi saya ikut Go-Jek sampai satu tahun. Tujuh hari saya bekerja. Saya libur sehari saja mungkin anak saya gak bisa jajan," ujarnya.

"Suatu hari saya bertemu sahabat lama saya lewat grup WhatsApp alumni SMP. Setelah cerita bagaimana kondisi masing-masing, dia ngajak ketemu di Surabaya. Akomodasi ditanggung sama dia. Dia bilang kepada saya, ada mobil nganggur, dan dia nyuruh saya untuk bawa ke Jakarta," kata Sa'amih melanjutkan.

"Akhirnya, mobil itu saya bawa ke Jakarta. Saya langsung buat SIM mobil yang uangnya juga dari dia dan daftar GrabCar," ucapnya melengkapi.

Ia menjelaskan ada dua hal yang memberikan motivasi kepadanya sehingga memutuskan untuk masih Grab dan giat bekerja di sana. Pertama adalah karena temannya yang sudah memberikan fasilitasi mulai dari mobil hingga biaya pembuatan SIM.

Yang kedua adalah, ketika dirinya masuk Grab, Sa'amih mengetahui anak bungsunya mengidap kanker kelenjar getah bening. Ia yang tadinya belum bisa mengatur penghasilan, sekarang setelah satu setengah tahun berjalan, kebutuhannya bisa tercukupi.

Ia mengaku sekarang sudah punya mobil sendiri dan mengangsurnya lewat penghasilan dari taksi online. Selain itu, biaya rumah sakit untuk anaknya yang sudah rutin menjalani kemoterapi itu juga tertutupi. Begitu pun kebutuhan sekolah anaknya.

"Selama serius, kerja jujur, kerja fokus, itu hasilnya bagus di Grab. Sekarang anak saya juga sudah berangsur membaik," ucap perempuan berusia 37 tahun tersebut.

Wanita yang berdomisili di Pamulang ini mengaku saat tanggal ganjil sesuai nomor polisi kendaraannya, ia bisa mendapat penghasilan Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu setiap harinya. Ditambah insentif Rp 400 ribu, total ia bisa meraup sampai Rp 800 tiap hari.

Kisah tak kalah inspiratif juga datang dari Dian. Perempuan yang rela meninggalkan pekerjaan lamanya di bagian keuangan di perusahaan kargo ini juga merupakan seorang orang tua tunggal.

"Dulu 2009 pisah (sama suami), kasusnya KDRT," kata Dian.

Ia mengaku, walau baru setahun bergabung dengan Grab, ini adalah pekerjaan terbaiknya. Ia bahkan sekarang bisa membeli dua mobil dan ikut cicilan untuk KPR dari Grab.

"Dulu kerja berdua sama suami aja rumah masih dikasih mertua. Dari semua kerjaan yang saya lakuin yang paling enak itu Grab," ujarnya.

Jika Sa'amih menekankan untuk kerja serius, jujur, dan fokus, maka Dian mengatakan bahwa seorang perempuan yang hidup di Jakarta itu harus tangguh. Selain nyaman bekerja di Grab, mereka juga mengapresiasi keputusan perusahaan tersebut dalam memperhatikan keamanan mitra pengemudinya.

"Untuk program yang tombol darurat dan pemasangan CCTV, saya sangat apresiasi. Kemarin saya sempat ikut training yang CCTV, bagaimana caranya, apa kelebihannya, dan itu sangat baik sekali," tuturnya.



"Untuk masukan, saya kan perempuan, risikonya kan lebih tinggi, jadi saya bilang kalau driver perempuan wajib dipasangi CCTV. Lalu, ada fitur tersendiri untuk perempuan di tombol darurat, lebih spesifik lagi karena modusnya ke perempuan lebih banyak," katanya menambahkan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dian. Dengan adanya CCTV itu, dia merasa dirinya aman dan tidak merasa sendirian.

Keduanya juga bersyukur dengan komunikasi dua arah yang terjalin antara Grab dengan mitra pengemudi. Baik Sa'amih maupun Dian mengaku hal tersebut sangat membantu mereka.

Sejumlah masalah seperti barang pelanggan yang tertinggal, hingga masalah di mobil seperti ban pecah, bisa diadukan secara langsung. Respons yang diberikan admin dari Grab pun juga diakui keduanya sangat baik.

Saat ini, Grab memang membentuk grup Facebook yang sudah beranggotakan sekitar 70 ribu pengemudi GrabCar. Secara offline, mereka juga rutin menghadiri 80-100 pertemuan para driver.

Uniknya, tiap minggu ketiga tiap bulannya, perusahaan besutan Anthony Tan ini menghadiri teknisi dari Singapura secara langsung. Harapannya, terjadi komunikasi dua arah antara teknisi yang membuat layanan dengan para driver yang merasakannya langsung. (mon/fyk)