Senin, 20 Agu 2018 14:08 WIB

Kisah Elon Musk Terbangkan Pesawat Tempur Rusia

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Flicker/Bernard Spragg Foto: Flicker/Bernard Spragg
Jakarta - Elon Musk dikenal sebagai pendiri dan CEO SpaceX dan Tesla, ia juga dikenal sebagai miliarder, yang mendapat 'modal' pertamanya dari penjualan Zip2 dan PayPal. Namun ada satu hal yang tak banyak diketahui orang, yaitu kecintaan Musk terhadap dunia penerbangan.

Sekitar tahun 2003, setelah mendirikan SpaceX dan ikut mendirikan Tesla, Musk juga 'menghamburkan' uangnya untuk kecintaannya pada dunia dirgantara. Ia membeli sejumlah pesawat, Piper Meridian, Cessna Citation CJ2, dan jet militer bernama Aero Vodochody L-38 Albatros.

Nama yang disebut terakhir bisa dibilang yang paling menarik. L-39 adalah pesawat jet yang didesain dan dibuat pada era Perang Dingin, tepatnya di Cekoslovakia. Pesawat ini dibuat sebagai pesawat jet berperforma tinggi yang dipakai sebagai pesawat latihan untuk pilot sebelum mereka terbang menggunakan pesawat tempur.

"Mungkin pesawat yang paling menarik yang kumiliki adalah pesawat jet tempur Rusia. Ini mempunyai rangka buatan Ceko, Mesin buatan Ukrania, dan sistem avionik buatan Rusia. Ini adalah pesawat yang mereka pakai untuk melatih pilot fighter, jadi mempunyai kemampuan akrobatik yang luar biasa," ujar Musk dalam sebuah wawancara.

Setelah Uni Soviet bubar, Rusia banyak menjual pesawat L-39. Salah satunya yang kemudian dibeli oleh Musk. L-39 milik Musk ini diberi warna merah, hitam, dan garis berwarna krom lengkap dengan logo SpaceX.

"Pantatmu akan sakit jika kamu terbang menggunakannya selama lebih dari satu jam. Kursinya sangat keras. Pesawat ini juga bisa melakukan 8G," tambahnya.

8G yang dimaksud oleh Musk adalah kekuatan gravitasi yang delapan kali lebih besar ketimbang gravitasi di bumi. Daya gravitasi sebesar ini akan membuat pilot 'black out' jika tak menggunakan pakaian khusus yang memang didesain untuk itu.


Karena risiko yang besar itu, Musk mengaku hanya berani menerbangkannya sampai 5G, yang menurutnya sudah cukup untuk membuatnya sulit bergerak dan berkonsentrasi, demikian dikutip detikINET dari Business Insider, Senin (20/8/2018).

Musk pun bercerita mengenai pengalamannya yang paling menarik ketika menerbangkan L-39. Yaitu ketika ia terbang di dekat Reno, Amerika Serikat, dan ia terbang mengikuti jet lain dengan ketinggian rendah di dekat pegunungan.

"Ini benar-benar seperi di Top Gun. Ketinggian anda tak lebih dari beberapa ratus kaki di atas tanah, dan terbang mengikuti kontur pegunungan," ujar Musk.

Kisah Musk ini juga diceritakan Christian Davenport dalam bukunya yang berjudul "The Space Barons: Elon Musk, Jeff Bezos, and The Quest to Colonoize the Cosmos."

"saya melakukan akrobat di dalamnya dan terbang dengan ketinggian ujung pohon, terbang terbalik di atas gunung, dan terbang kembali dengan sisi sebaliknya," ujar Musk dalam buku tersebut.

Namun kini Musk sudah tak lagi menerbangkan pesawat tempur itu. Tak terlalu jelas kapan Musk berhenti melakukan hobi yang memicu adrenalin tersebut, namun hobinya itu sudah ia hentikan setidaknya sejak satu dekade yang lalu.

"Pesawat ini dibuat oleh teknisi Soviet dan mungkin mereka mengencangkan baut dengan benar, atau mungkin juga tidak. Tak banyak perlindungan. Saya merasa ini gila. Saya punya anak. Saya harus berhenti melakukan ini," kisahnya.

Menurutnya, ia terlalu banyak pikiran dengan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal ini, menurutnya, adalah hal buruk untuk seorang pilot. (asj/rou)