Kamis, 02 Agu 2018 18:26 WIB

Ingin Seperti Facebook, Musical.ly Malah Dicaplok Tik Tok

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Logo Musical.ly. Foto: Istimewa Logo Musical.ly. Foto: Istimewa
Jakarta - Tik Tok dan Musical.ly telah melebur menjadi satu platform. Bytedance, induk perusahaan keduanya, memilih untuk mempertahankan nama Tik Tok pada aplikasi anyar hasil penggabungan antara keduanya.

Kelihatannya, Musical.ly ibarat anak bawang dibandingkan Tik Tok. Siapa sangka, jejaring sosial tersebut dulunya berharap menjadi seperti Facebook di kemudian hari. Adalah Alex Zhu, co-founder dari Musical.ly yang menginginkan hal tersebut bisa terjadi.

"Kami bisa membentuk sebuah platform yang besar seperti Facebook, Instagram, dan Snapchat, atau jika tidak, platform itu mati begitu saja. Tidak ada pemisah di antara keduanya. Saya percaya Musical.ly dapat menjadi jejaring sosial yang umum dipakai kebanyakan orang," ujarnya suatu waktu.


Banyak menghabiskan waktu di Silicon Valley dan China membuat Zhu yakin dirinya berada di posisi tepat dalam melihat berbagai inovasi dari dua sisi dunia. Jika tidak seperti Facebook, ia ingin Musical.ly menjadi seperti WeChat yang sudah sangat besar di Negeri Tirai Bambu.

Di sana, sebagaimana disebutkannya, orang-orang menggunakan platform tersebut untuk melakukan komunikasi, live stream, membayar tagihan, berinvestasi, hingga memesan taksi. WeChat memang disebut-sebut sebagai gabungan dari berbagai aplikasi sekaligus, seperti Facebook, Spotify, PayPal, Periscope, serta Uber.

Selain banyak menghabiskan waktu di salah satu pusat startup terbesar di dunia, Zhu juga sempat merasakan tangan dingin dari Jack Ma. Pada 2000, ia bergabung dengan China Pages, perusahaan pertama yang didirikan oleh salah satu orang terkaya Asia tersebut.

Meski ingin Musical.ly menjadi seperti Facebook atau WeChat, Zhu sempat merasa takut ketika aplikasi buatannya itu mendapat perhatian besar dari anak-anak muda Amerika Serikat. AS diketahui memang menjadi salah satu pasar terbesar platform tersebut di samping Eropa.


"Kamu pasti akan memikirkan banyak hal. Kamu akan merasa selalu khawatir tentang hari esok. Kami harus selalu paham mengenai apa yang akan kami lakukan berikutnya," katanya, sebagaimana detikINET kutip dari Bloomberg, Kamis (2/8/2018).

Rasa khawatirnya itu ia tutupi dengan rutin menjalin diskusi dengan perusahaan teknologi asal AS seperti Facebook, Instagram, Twitter, serta YouTube untuk saling belajar satu sama lain. Di samping itu, kegiatannya tersebut berguna untuk membuka jalan dalam melakukan kolaborasi.

Pada masa-masa sibuknya mengurusi Musical.ly, Zhu mengaku dirinya dan Luyu Yang, co-founder lainnya, bisa terbang ke AS sekali dalam dua bulan. Meski begitu, ia mengatakan tetap menghabiskan lebih banyak waktu di Shanghai bersama tim internal Musical.ly di sana.


Kini, walau belum sempat untuk menjadi sebesar Facebook dan WeChat, Zhu harus menerima kenyataan jika Musical.ly akhirnya hilang dan bergabung dengan Tik Tok. Hal tersebut menyusul diakuisisinya platform tersebut oleh Bytedance, induk Tik Tok, pada Desember 2017 lalu senilai hampir USD 1 miliar.

Meski begitu, dengan jabatannya sebagai Senior Vice President Tik Tok, bisa jadi Zhu akan membuat platform tersebut menjelma sebagai Facebook atau WeChat berikutnya. (mon/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed