Kamis, 07 Jun 2018 13:46 WIB

Karyawan WhatsApp & Facebook Ternyata Tak Akur, Kenapa?

Raden Fadli Sumawilaga - detikInet
Kantor Facebook. Foto: Istimewa Kantor Facebook. Foto: Istimewa
Jakarta - Setelah ditinggalkan para pendirinya, Jan Koum dan Brian Acton, kini WhatsApp benar-benar 'diurus' oleh Facebook selaku induk perusahaan. Namun ada permasalahan yang tiimbul.

Kini karyawan Whatsapp bekerja dengan ruang dan fasilitas yang sama dengan karyawan Facebook, namun kabarnya kerap terjadi gesekan antara keduanya seperti dikutip detikINET dari Business Insider, Kamis (7/6/2018).

Beberapa anggota tim WhatsApp dilaporkan terganggu dengan restoran dan toko yang mengelilingi kantor baru mereka di kantor pusat Facebook. The Wall Street Journal (WSJ) pun melaporkan bahwa, karyawan Facebook juga merasa terusik ketika karyawan WhatsApp meminta kamar mandi yang lebih bagus dengan pintu yang besar.



Karyawan WhatsApp juga disebut meminta agar meja di kantor lamanya dibawa, yang mana ukurannya lebih besar dari ukuran standar di Facebook. Budaya karyawan dari kedua perusahaan ini pun jelas berbeda.

Perbedaan tersebut tercermin ketika tim WhatsApp memasang poster di lorong gedung yang bertuliskan 'Mohon kurangi kebisingan seminimal mungkin'. Karyawan Facebook lantas membalas dengan nyanyian berlirik "Welcome to WhatsApp - Shut up!".

Facebook dan WhatsApp memang merupakan kedua perusahaan yang dibangun secara terpisah dan memiliki landasan filosofis yang sangat berbeda. Hal ini membuat karyawan keduanya sulit untuk hidup harmonis dalam satu gedung.



Selain itu, Brian Acton dan Jan Koum dikabarkan tak sepakat dengan CEO Facebook dan COO-nya Sheryl Sandberg, selama bertahun-tahun. Mereka tak sepakat pada model bisnis kedua perusahaan yang berbeda serta tekanan dari kedua bos Facebook yang ingin mengubah WhatsApp menjadi platfom pesan berbasis iklan.

Hal tersebut juga diyakini menjadi alasan Jan Koum memutuskan untuk mengundurkan diri pada April lalu. Sejak awal, Jan Koum dan Brian Acton memang membangun WhatsApp sebagai layanan pesan tanpa iklan. Jika Zuckerberg berniat untuk mengubah konsep tersebut, hal itu jelas sangat bertolak belakang dengan tujuan awal para pendiri WhatsApp tersebut. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed