Senin, 02 Nov 2015 14:31 WIB

Catatan dari Mountain View

Melamar Kerja di Google, Susah Gak Sih?

Ardhi Suryadhi - detikInet
Amanda Surya. (ash/detikINET) Amanda Surya. (ash/detikINET)
Jakarta - Gaji tinggi dan fasilitas berlimpah jadi salah satu daya tarik bekerja di Google. Tak ayal, banyak yang mengantre untuk bisa kerja di perusahaan internet itu. Terlebih di kantor pusatnya yang berada di Mountain View, California, Amerika Serikat.

Namun dari ribuan atau mungkin puluhan ribu karyawan Google di Mountain View, ada sekitar 30-40 orang Indonesia di sana. IndoGooglers -- demikian sebutan mereka -- sukses menunjukkan kepada dunia bahwa sumber daya manusia Indonesia tak kalah dengan negara lain.

Apalagi Google dikenal sebagai perusahaan idaman, dimana mereka yang bergabung juga merupakan orang-orang pilihan.

Laszlo Bock, Head of People Operation Google beberapa waktu lalu pernah mengungkapkan bahwa dari sekitar 2 juta lamaran yang datang dari seluruh dunia, hanya 5.000 saja akan diterima. Tiap pelamar kira-kira punya peluang 400 banding 1.

Bahkan, tak sedikit yang mencoba menyuap Bock agar diterima jadi pegawai Google. Tak sedikit pula yang mengancamnya. Tapi Bock memastikan semua proses perekrutan karyawan Google dilakukan dengan obyektif.

Jadi bisa tergambar betapa kerasnya persaingan untuk jadi Googlers. Hamdani Rosyid, IndoGoolers yang sudah 2 tahun lebih di Google mengakui bahwa untuk bisa diterima butuh perjuangan.

Dani - sapaannya -- merupakan anggota tim engineer Google Payment di Mountain View yang asli dari Pekanbaru. Kebetulan, ia mengenyam bangku kuliah di Singapura dan sempat bekerja di sana. Dari situlah, Dani mulai meretas jalan untuk menjadi Googlers.

"Dulu saya sering ikut lomba pemrograman online, gak menang juga sih, paling urutan 1.000 sekian. Entah gimana, Google lalu mengontak saya dan ditawari untuk kerja. Kirim resume lalu diatur waktu interviewnya," ungkap Dani saat bertemu dengan detikINET di kantor Google, Mountain View, California, Amerika Serikat.

Sesi interview inilah yang dianggap Dani sebagai tes paling sulit. Ada dua tahap interview yang harus dilalui. Tahap pertama melalui telepon selama 30-45 menit. Pertanyaan yang diajukan terkait pemrograman. Seminggu berselang, dikasih kabar lolos interview via telepon dan lanjut ke interview di kantor Google.

"Saat itu dikasih bahan soal apa yang bakal ditanyakan. Saya waktu itu belajar dulu, karena kalau gak belajar, gak mungkin bagi saya, karena materinya banyak dan sulit seperti tes masuk perguruan tinggi. Jadi selama beberapa minggu itu saya meminjam buku dari perpustakaan terus belajar saat weekend".

"Saat itu masih kerja juga di Singapura. Jadi belajarnya di waktu luang dan weekend. Setelah interview ternyata Alhamdulillah yang saya pelajari banyak yang keluar. Awalnya, agak ragu-ragu tapi Alhamdulillah dapat," syukur Dani.

Lain lagi dengan pengalaman Amanda Surya, IndoGooglers yang saat ini ditempatkan di Nest -- anak usaha Google. Ia bercerita, dulu tak pernah melamar ke Google. Justru ia yang dikejar-kejar raksasa teknologi itu dan ditawari pekerjaan.

Namun tetap saja ada tes yang harus dilalui, dimana ia diberikan tugas membuat program komputer dalam waktu dua hari.

"Kalau semuanya tampak bagus, baru dipanggil interview. Disuruh bikin program gitu, coding. Beda dengan sekarang, dulu (Google) lebih kecil, sehingga lebih selektif," lanjut wanita yang sudah 9 tahun bekerja di Google dan pernah memperkuat tim YouTube, Google Wallet dan Android.

Sementara Jerry juga punya pengalaman yang dibilang rezeki nomplok saat direkrut Google. Ia bercerita, kala itu sejatinya teman Jerry yang ditawari pekerjaan di Google. "Namun karena teman saya sudah kerja di tempat lain maka dia merekomendasikan saya. Nah, jadilah saya dikontak Google dan masuk ke sini," lanjutnya.



Intinya, ibarat pepatah, banyak jalan menuju kantor Google di Mountain View. Anda tak harus selalu berasal dari lulusan kampus luar negeri untuk bisa diterima di sini. Memang, dari beberapa IndoGoolers yang ditemui detikINET di sini merupakan lulusan luar negeri. Tetapi ada juga lho yang berasal dari kampus lokal di Indonesia.

Menurut Dani, jika profesi yang digeluti adalah seorang engineer, sudah pasti kemampuan teknis adalah hal utama untuk bisa menjadi Googlers. Selain itu baru kemampuan komunikasi, karena Anda tak akan bekerja sendiri, melainkan dalam sebuah tim.

"Interview berat dari sisi teknis, soal-soal algoritma, itu teknikal banget. Kalau gak ngerti, interview gak bakal bisa jawab, seperti UMPTN. Interview itu yang paling penting di Google sebelum nanti diputuskan oleh tim panel seleksi," ujar Dani.

Sementara Amanda menegaskan bahwa kemampuan SDM Indonesia tak kalah kok dengan negara lain. Entah itu dari sisi komunikasi atau urusan teknis, tinggal modal kepercayaan diri saja yang juga harus diasah. "Percaya diri penting. Jangan sampai ada pikiran, saya dari Indonesia kalah kemampuan dari negara lain. Kalau mikir kaya gitu, susah masuk Google," pungkasnya.

(ash/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed