Hikmah Quick Count Pilpres 2014

Kolom Telematika

Hikmah Quick Count Pilpres 2014

- detikInet
Senin, 21 Jul 2014 16:34 WIB
Jakarta -

Sampai saat ini, dunia maya dan nyata dihebohkan oleh proyek crowrdsourcing Quick Count (QC). Mengapa demikian? Karena ada banyak tafsir dan pendapat yang mewakili beragam kepentingan juga.

Sudah banyak tulisan mengenai crowdsourcing QC, sehingga penulis tidak membahas unsur teknis komputasi dan statistika secara mendalam, namun berfokus pada penjelasan sains populer, dan terutama pada aspek kewarganegaraan bagi netizen.

Hukumonline.com, sebagai portal yang membahas masalah hukum, menunjukkan bahwa UU keterbukaan informasi publik menjamin agar badan publik bisa menyebarkan informasi yang dapat terpercaya, termasuk di antaranya mengenai diseminasi info QC.


Selayang Pandang Crowdsourcing QC

Data situs web berikut diambil dari situs web http://www.kpu.go.id. Namun, sampai tulisan ini dimuat, situs KPU tersebut belum dapat diakses. Penyebabnya belum diketahui, selain pesan ‘error 503’ dari peramban milik penulis.

Namun, situs web http://pilpres2014.kpu.go.id/ tetap bisa dibuka, untuk mengakses data scan formulir C1, DA 1, DB 1, dan DC 1 yang diperlukan bagi crowdsourcing QC.

Apa saja situs web tersebut? Situs web crowdsourcing yang paling terkenal tentu saja adalah http://kawalpemilu.org/ , dikerjakan oleh relawan yang dikoordinir oleh Ainun Najib, alumnus Nanyang Technological University yang sekarang tinggal di Singapura. Relawan situs ini mengkomputasi data dari KPU dalam bentuk tabel, yang dapat dengan mudah dipahami oleh siapapun.

Namun, situs kawalpemilu.org dikritik sangat tajam oleh banyak pihak, karena terkesan menguntungkan kontestan pemilu tertentu. Oleh karena itu, dalam rangka memperkaya dialektika QC, situs web http://bowoharja.biz/ disediakan untuk memperkaya wacana publik. Situs bowoharja ini hadir untuk menjadi antitesa situs kawal pemilu, sehingga publik mendapat wacana alternatif yang baik.
 
Sementara itu, ada developer web yang mengembangkan situs kreatif, yang mendorong user untuk melakukan QC secara mandiri. Silahkan cek http://cobaqc.org/ . Di situs tersebut, diberikan penjalasan dalam suatu esai oleh Prof Merlyna Lim dari Princeton University, mengenai pentingnya melakukan QC. Cara melakukannya sangat sederhana, tinggal memasukkan berapa TPS yang ingin dirandomisasi, masukkan parameter berapa kali percobaan, dan lokasi TPS.

Sampai disini, sudah banyak relawan atau netizen yang berpartisipasi dalam proyek crowdsourcing QC. Namun, bagaimanakah kita sebagai warga negara yang baik, untuk menyikapi semuanya ini dengan proporsional?



Perdamaian Abadi Immanuel Kant dan Rasionalitas Pilpres

Menurut Immanuel Kant, filosof Jerman, perdamaian abadi di dunia dapat tercapai jika bangsa-bangsa duduk bersama dan membangun rasa saling percaya.

Jika menarik postulat perdamaian abadi Kant kedalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, maka seyogyanya pasca pemaparan dan pertukaran wacana seputar quick count pilpres ini, justru sebaiknya informasi tersebut bisa menjadi masukan bagi semua pihak untuk duduk bersama dan memikirkan langkah berikutnya untuk membangun negeri kita yang tercinta ini.

Tanggal 20 ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono direncanakan akan memanggil Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Joko Widodo ke Istana negara untuk menjamin suasana politik yang tetap rasional pasca pengumuman hasil pilpres oleh KPU. Langkah Pak SBY yang strategis dan tepat ini, sudah sangat sesuai dengan semangat Kantian untuk menjamin konsensus politik yang rasional.

Selanjutnya, tentu saja, bola berada pada penegak hukum, dalam hal ini TNI dan POLRI, untuk menjaga ketenangan dan ketertiban publik sampai dilantiknya presiden baru pada bulan Oktober. Oleh karena itu, mari kita para netizen membantu penegak hukum menjalankan tugasnya, dengan menjamin suasana sejuk dan rasional di media sosial, chatting room, korespondensi surel, maupun di dunia nyata.

Teladan baik yang sudah ditunjukkan oleh aktivis crowdsourcing di atas, yang mendiseminasi informasi publik dengan rasional dan ilmiah, sudah selayaknya diteruskan dengan cara mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan untuk membangun bangsa. Diskursus manusia rasional, yang telah berjalan selama ini, seyogyanya terus dilanjutkan.

 

Tentang Penulis: Dr.rer.nat Arli Aditya Parikesit adalah alumni program Phd dalam bidang Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman; Peneliti dan Dosen Luar Biasa pada Grup Riset Bioinformatika, Departemen Kimia FMIPA-UI; Managing Editor Netsains.com; dan mantan Koordinator Media/Publikasi PCI NU Jerman. Ia bisa dihubungi melalui akun @arli_par di twitter, https://www.facebook.com/arli.parikesit di facebook, dan www.gplus.to/arli di google+.

(rou/rou)